Popular Posts

Friday, June 6, 2014

Separuh Dari Satu Yang Utuh

Langit malam yang tadinya hitam kelam, kini memerah, yang sepertinya menandakan pertukaran malam menjadi pagi. Langkah jarum jam seakan terdengar begitu keras pada malam menjelang pagi itu. Yang kemudian mengusik dan mengganggu ku. Seperti ingin memberi tahu kalau,
“sebentar lagi langkahku akan berhenti pada angka 4, tapi kenapa matamu masih menatap langit yang memiliki 3 kotak vertikal dan 4 kotak horizontal yang di sekitarnya tak ada hal yang sepertinya begitu menarik untuk dilihat. Tak ada bulan atau bintang di langit itu, hanya seekor laba-laba tua dengan sarangnya yang tampak begitu tebal. Bukan hal menarik yang mungkin bisa membuatmu terjaga hingga pagi. Hahahaha…”
Aku seperti merasa mendengar semua ocehan dan cemoohan mereka, lalu aku seakan berargumen dengan mereka,
“apa pedulimu jam dinding?, mengapa kau tidak diam saja dan melakukan tugas mu untuk menjalankan waktu agar tetap berputar. Dan kau laba-laba tua, kenapa kau terus memandangiku dengan matamu yang banyak itu, kenapa kau tidak mengurus urusan mu sendiri, atau mungkin kau lebih baik mengganti sarangmu yang sudah tampak lusuh”
Lalu dengan lantang sepertinya laba-laba itu berkata padaku
“memang kamu itu siapa untuk aku perhatikan, jangan salahkan mataku yang lebih dari satu, bukan berarti aku selalu memperhatikanmu, aku punya banyak hal untuk aku lakukan dari sekedar memperhatikan mu. Atau lebih baik dari sekedar memikirkan seorang wanita di luar sana yang mungkin tidak sedang memikirkanmu, atau bahkan sedang tertawa senang entah dengan siapa”
Sindirannya begitu tajam menusukku. Cemoohannya begitu membodohkanku. Lalu dengan nada yang tak mau kalah, aku kembali bersuara pada mereka.
“memangnya kalian yang hanya binatang dan benda mati tahu apa tentang hati, tahu apa tentang cinta. Ini bukan hal yang mudah!”
“jika kamu sadar kalau ini bukan hal yang mudah, kenapa tidak menjadi egois saja dan biarkan cinta itu berakhir di tengah jalan, atau kebingungan di persimpangan”
“kalian memang tidak akan pernah tahu. Jika saja cinta itu mudah, panglima tian feng mungkin tak harus reinkarnasi hingga ribuan kali untuk menemukan sejatinya. Mungkin romeo juga tak harus mati karena meminum racunnya, seperti halnya jack dawson yang terkubur di dasar atlantis demi menjaga hangatnya. Atau mungkin Davey Jones yang harus mencabut jantungnya sendiri dan menempatkannya dalam peti untuk janji abadinya”
Kemudian tak ada lagi suara yang terdengar untuk beberapa saat hingga akhirnya suara musik yang begitu keras mengejutkanku.
“katakan pada mama, cinta bukan hanya harta dan tahta dan pastikan pada semua, hanya cinta yang sejukkan dunia”.
Suara itu terdengar seperti lagu yang sering ku dengar. Tapi dari mana datangnya?, suaranya begitu keras, sepertinya begitu dekat. Aku membuka pintu, berlari ke jalan mencari suara itu. Tapi tak ada suara apapun di luar. Lalu aku kembali masuk ke dalam, dan lagi suara itu masih keras terdengar. Entah gila atau sinting, tapi aku melihat dewa bernyanyi di kamarku. Mereka hanya sebuah poster di balik pintu.
“aku sudah gila…” . bicaraku pada diri sendiri.
“kamu belum gila kawan, dan kamu gak perlu takut. Cinta tak begitu sulit, juga tak harus selalu tentang materi”
Suaranya terdengar besar dan berat, dan aku tahu kalau itu suaranya ahmad dhani yang berbicara kepadaku.
“tapi itu kan lagu dari album yang lama, apa kau tahu kalau keturunan siti nur baya yang sekarang jauh berbeda dari moyangnya, mereka tak lagi mencintai hasan basri, mereka lebih cinta pada yang pasti. Yang pasti mapan, yang pasti tampan. Dan tak bisa dibohongi, bahkan seorang penyanyi yang bernyanyi hanya dengan 3 kata untuk keseluruhan lagunya juga tau, kalau cinta juga perlu materi, dan sudah pasti, tanpa perlu survey lagi, kalau 11 dari 10 wanita pasti setuju akan hal itu. aku seperti merasa apa yang terasa, ketika rasa yang telah lama dikecap kini kian memudar, seperti hambar. Menunggu yang sudah pasti berlalu atau menanti yang tak kunjung pasti”.
Lalu botol-botol yang tadinya penuh kini menjadi kosong setelah ku tenggak, seperti ingin ikut bercerita.
“sudahlah. Non sense itu semua. Buat apa kamu merasakan yang sudah pudar dan hambar. Kamu tidak perlu menanti yang tidak pasti, mari ikut denganku, kita nikmati malam ini”
“lalu apa sebenarnya yang ada?, ketika yang dinanti bukanlah pasti, yang terasa hanya asa yang tak ter-asah, ternyata mimpi yang tak pernah mampir dan bayang yang tak lagi datang.
Lalu apa yang sebenarnya ada?, yang tersisa hanya kiasan pada kertas-kertas lusuh tak ber-tuan, yang bercerita pada bayang dan mimpi yang sedang menanti hal yang tak pasti”.
Botol-botol itu juga tak mampu menjawab tanyaku. Hah, lagi, ku hembuskan nafas bersamaan dengan asap yang keluar melalui mulut dan hidungku.
“ada apa denganmu?”
Suara yang kembali membuatku berpikir kalau aku mungkin sudah gila.
“aku disini, di atasmu”
Ternyata asap yang ku hembuskan tadi berkumpul dan mengepul membentuk subuah tanda tanya. Dengan mengabaikan semua pemikiran tentang aku yang mungkin sudah mulai gila, aku bercerita padanya.
“cinta, kemana dia bawa pergi hatiku?, aku hanya berharap dia tidak terlalu jauh, yang akhirnya membuatnya jenuh, dan kemudian meninggalkan hatiku sendiri, tak tersentuh”.
“memangnya cintamu ada dimana?
“aku juga tidak tahu. Aku hanya tahu tentang perbedaan yang akhirnya membuat kami jauh”
“banyak rasa yang sebenarnya sama jika saja kalian manusia mau sedikit merasa. Dengan tidak hanya melihat warna kulit dan harum buahnya. Sama seperti perbedaan yang kalian miliki, yang jika terlihat, sungguh begitu beragam. Tapi jika saja kalian mau merasa, ternyata banyak rasa yang sama, bahkan ketika kalian sedang menelan perbedaan”
“itu dia yang membuat aku tidak mengerti. Aku seperti dihadapkan pada sebuah rangkaian puzzle raksasa bermotif hati yang telah tersusun dan kemudian dibongkar, mungkin sudah puluhan kali dilakukan. Hingga pada satu saat yang mungkin kesekian ratus kalinya, aku merasa sepertinya ada bagian yang bukan pada tempatnya, atau bisa jadi hilang.
Meski tak lelah terus mencari dan mencoba menempatkannya kembali, tapi tetap saja kelihatannya lain, tak seperti yang biasa dilakukan hingga ratusan kali. Hingga pada satu titik dimana kamu merasa sepertinya ini sudah cukup, mungkin hanya bosan dengan ini, ingin sesuatu yang lain. Dan akhinya membiarkan puzzle itu menjadi susunan yang bingung dan tak berujung”.
“mungkin memang harus seperti itu kawan. Mungkin memang harus ditinggalkan dan biarkan menjadi rangkaian susunan yang tak berujung”
“tapi kenapa harus seperti ini?, apa yang salah?,siapa yang harus disalahkan?”
“tak ada yang salah dan harus disalahkan. Ini sama seperti bunga yang ingin mekar, mengizinkan kumbang dan angin menghisap dan menebar putiknya, untuk menjadi sempurna pada waktunya. Lalu siapa yang nantinya harus disalahkan jika bunga gugur sebelum berkembang?. apa kumbang yang berlebih menghisap sarinya?, atau angin yang terlalu jauh menebarnya?. coba jawab tanya itu”
Otakku seperti memberi perintah pada mulutku untuk menjawab tanya itu, tapi sepertinya aku tak mampu. Lalu tanyaku kembali pada kepulan asap yang keluar dari mulutku.
“hal apa yang mampu membuat kita begitu bersedih?. apa saat kita melihat malaikat yang tak bisa terbang karena sayapnya yang patah, apa cinta yang gugur sebelum berkembang. Atau ketika malaikat pantas untuk mati, haruskah kita menangis untuknya”.
“bersedih dan menangislah saat kau tahu tak ada lagi cinta dihatimu. Bahkan jika itu hanya cinta untuk membenci. Lalu, masih adakah cinta di hatimu?”
“aku tak lagi tahu. Hanya berharap pada waktu, memohon untuk tidak segera berlalu, dan memutar kembali yang lalu, di saat yang sama aku berkata janji pada bunga untuk tidak membiarkannya gugur sebelum berkembang, dan melarang angin untuk bertiup terlalu kencang agar tak membuat sarinya terbang menghilang, dan sempurna saat berkembang.
Mungkin benar apa yang dikatakan jam dinding tadi kepadaku, kenapa aku tidak menjadi egois saja, menjadi angkuh dalam ringkihnya cintaku yang sepertinya masih haus akan pelukan dan sanjungan. Tapi sekuat tenaga akan ku coba menepis semua lirik lagu yang dia mainkan untukku. Aku akan melangkah sombong di antara pengemis-pengemis hati yang lapar akan kasih, sementara aku sedang membohongi diri sendiri bahwa aku masih mencari cinta yang ingin memberi”
ketika aku begitu senang membicarakan tentang ego ku. Tiba-tiba aku dibentak, sangat menghentak karena ego yang coba memanipulasi pikiranku, untuk menjadikan ini sebagai kemenanganku sendiri. Dengan keterpaksaan kebahagiaan yang dengan segala cara coba untuk dipalsukan agar semua terlihat seakan abadi.
Yang ternyata bentakan itu adalah suaraku sendiri, tapi tidak dari mulutku.
“hey. Ada apa denganmu yang merupakan wujud nyata dari aku. Kenapa kau biarkan ego meracuniku, aku hampir sekarat dalam tubuhmu karena ego yang kau biarkan menyerangku. Ada apa denganmu, dulu kita tak seperti ini!”
“hey kamu yang merupakan wujud tidak nyata dari aku. kali ini beri aku maaf yang lebih besar dari tempat cintaku bersandar. Salahkan aku akan segalanya. Beri aku makian akan kemunafikan tentang semua hal yang begitu ku inginkan. Lalu biarkan aku pergi, tersudut dan terdampar. Karena aku bahkan tak pantas memungut cinta yang terpapar. meski harus menggerutu dan menggigit lidahku, semua tak akan kembali seperti dulu. Dan jika pagi nanti cintaku kembali kesini, tolong sampaikan maafku akan seribu rasa yang hambar di tambah seribu warna yang pudar dan seribu janji yang ingkar. Tapi sampaikan juga padanya, bahwa hati yang dibawanya, akan abadi untuk cinta”
Setelah 3 jam pertengkarannya dengan semua benda mati yang dijadikannya hidup, kini pagi pun kembali bersama cinta dan separuh hatinya yang sudah mati. Cinta pun menangis dengan menggenggam separuh hati yang akan abadi.

Thursday, June 5, 2014

Rahasia Diary

Aku masih ada di tempat tidur saat tiba-tiba suara handphone-ku berbunyi nyaring. Ada apa ini?, pikirku. Segera kuambil Handphone yang kuletakkan di meja belajar. Halo: Maaf dengan siapa ini?, tanyaku. Saya Ayana apa benar ini nomor Rizal jawabnya?. Maaf, sepertinya kamu salah sambung, ini bukan nomor Rizal tapi ini nomor saya nama saya Rezky. Lho salah ya? maaf nih kalau begitu, maaf udah ganggu ya, oke ga apa-apa jawabku. Tut… tut.. tut.. kudengar suara telepon ditutup. Aku pun kembali lagi ke tempat tidur sambil memikirkan orang yang salah menelepon tadi. Ayana? Pikirku, perasaan aku baru denger nama itu. Ya sudahlah ngapain juga dipikirin. Aku pun melanjutkan tidur yang tadi sempat terganggu.
Esok harinya hari Senin seperti biasa aku pergi ke Sekolah. aku saat ini sudah SMA kelas XI, Sekolahku adalah sekolah yang lumayan menjadi favorit di kota tempat tinggalku. Aku selalu berangkat ke sekolah memakai Motor Ninja kebanggaanku yang diberikan Ayah sewaktu ulang tahunku yang lalu. Ayahku sebenarnya menyuruhku naik Mobil pribadi keluarga kami jika pergi sekolah. Tapi aku tidak mau karena aku memang suka naik Motor dan merasa malu jika pergi sekolah diantar jemput. Kesannya jadi seperti anak manja.
Pagi ini aku berangkat lebih pagi, sengaja aku lakukan agar aku bisa santai mengendarai motorku. Jarak rumahku dari Sekolah sekitar ±5 km. Tiba-tiba baru beberapa menit aku mengendarai motor, aku melihat seorang anak perempuan berseragam SMA sama sepertiku terlihat kebingungan di pinggir jalan. Aku pun segera menepi dan bertanya pada gadis itu. “Kamu anak SMAN 1 ya?” tanyaku, perasaan aku belum pernah lihat kamu ya, Iya aku siswi baru tapi maaf nih bisa tanya tidak?, Aku belum tahu alamat sekolah, tadi sebenarnya aku sudah janjian sama Rizal saudaraku buat berangkat bareng ke sekolah tapi dia gak kelihatan sampai jam segini.
Oh kalu begitu barengan sama aku saja yuk, aku juga kebetulan sekolah disitu, lagian ini juga sudah siang, bisa-bisa kamu telat datang kalau harus naik angkutan umum. Dia tidak menjawab. Tapi gak apa-apa nih aku ikut? Ya enggak lah jawabku. Lagian kita kan cuma bareng ke sekolah. Oh iya maaf banget ya udah ngerepotin kamu kaya gini. Iya gak apa-apa jawabku.
Seperti biasa setiap hari Senin di sekolahku diadakan Upacara Bendera, Setelah upacara berakhir aku pun segera menyelinap ke kelas di saat siswa lain masih mendengarkan pengumuman di lapangan. Males pikirku, panas-panas gini malah disuruh kumpul di lapangan. Selang beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi dan semua siswa pun masuk ke kelas.
Tidak lama kemudian Guru mata pelajaran pertama masuk, saat ini pelajaran pertama adalah Pelajaran PLH. Terlihat guru tersebut masuk bersama seorang siswi, tapi aku tidak terlalu memperhatikan karena aku masih sibuk dengan headsetku.
Anak anak, kelas kita kedatangan siswi baru pindahan dari Jakarta. Silahkan ucapkan perkenalan dulu. Baik terimakasih Pak, nama saya Ayana Shahab, Saya pindahan dari SMA Negeri 3 Jakarta. Saya biasa dipanggil Ayana atau bisa juga Achan, Salam kenal semua.
Aku kaget, dia kan yang tadi barengan sama aku waktu pergi ke sekolah, ternyata namanya Ayana. Aku perhatikan murid baru ini, Wajahnya cantik pikirku, kulitnya putih senyumnya juga manis, tingginya sekitar 155 cm dangan rambut berponi dan dikuncir ke belakang. Aku pun menyimpulkan bahwa dia pasti keturunan Indo.
Pak guru pun mempersilakan duduk, kebetulan pada saat itu bangku kosong hanya ada di sampingku dan satu lagi di belakangku, berhubung pak guru juga menyuruh lebih dulu mengisi bangku yang di depan, jadilah aku sebangku dengan Ayana.
Saat akan duduk dia tersenyum dan menyapaku, Pagi!, Boleh saya duduk disini? Aku terkejut, silakan jawabku. Akupun berbasa basi dengan dia. kamu yang tadi pagi bareng berangkat sekolah kan? Iya jawabnya, nama saya Ayana ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan, saya Rezky jawabku sambil menyambut uluran tanganya. Mohon bimbinganya ya!! Iya jawabku agak gugup. Pelajaran pun dimulai seperti biasa, aku pun tidak memperhatikan Ayana lagi, sibuk kembali dengan Novel dan Headsetku.
Jam 10.00 bel istirahat berbunyi, semua siswa segera keluar kelas, tapi aku tidak bergeming sedikit pun, masih berkutat dengan headset dan Novel yang sedang aku baca. Kulirik sebentar ke sampingku, ayana terlihat masih sedang menulis sesuatu, kamu gak pergi ke kantin? tanyaku, mana tahu aku kantinnya dimana jawabnya sambil tersenyum manis sekali. Lha bukannya lagi ngerjain tugas? Tanyaku lagi. Bukan, ini bukan tugas. Aku Cuma sedang menulis sesuatu di buku diari-ku jawabnya. Ooo… Aku pun menarik tangannya, ya sudah ayo ikut aku ke kantin daripada bosen disini.
Waktu itu di kantin tidak terlalu penuh, aku dan Ayana duduk di sebuah bangku yang menghadap ke taman, akupun memesan semangkuk Bakso seperti yang biasa aku lakukan, kamu mau makan juga Aya? Tanyaku. Boleh jawabnya, akupun memesan satu lagi bakso untuk Ayana. Akupun segera makan dengan lahap. Setelah itu kami berdua masuk ke kelas karena bel baru saja berbunyi.
Saat bel pulang berbunyi aku pun segera membereskan semua peralatan yang terserak di meja dan pergi ke parkiran. Aku pulang duluan ya Aya! Pamitku pada Ayana, oke sampai ketemu besok ya jawabnya. Siip. Aku pun segera melangkah keluar dari kelas meninggalkan Ayana yang masih membereskan semua buku-bukunya.
Segera kuhidupkan Motor dan kupanasi sebentar, setelah itu segera ku pacu motorku untuk pulang. Tapi tiba-tiba aku melihat Ayana di dekat gerbang depan sedang berdiri sendirian, kesempatan nih pikirku, aku segera menghampiri dan mengajaknya pulang, Aya kok belum pulang?. Iya lagi nunggu bis ini juga jawabnya. Bareng aja sama aku yuk ucapku nanti aku antar deh, emang rumahmu dimana? itu dijalan MH Thamrin, nah aku juga sama ke arah sana, yuk sekalian aja. Iya deh maaf ya ngerepotin lagi ujarnya sambil tersenyum. Ya enggak lah jawabku senang.
Ternyata rumah Ayana adalah rumah besar dan bagus yang sering aku lewati saat akan berangkat ke sekolah. Segera kuhentikan motorku di depan pagar rumahnya yang tinggi bercat putih itu, makasih ya sudah anterin aku, ucap Ayana, iya sama sama jawabku. Mampir dulu yuk ke rumahku minum dulu kek biar seger, makasih Aya tapi maaf lain kali saja ya aku main ke rumah kamu, aku cape banget nih mau tidur, oh iya ya udah sekali lagi makasih ya, dan hati hati di jalan! Makasih ucapku.
Setibanya di kamar aku segera berbaring dan memikirkan pertemuan tadi pagi dengan Ayana, setelah dilihat-lihat dia cantik banget ya pikirku, untung tadi pagi aku ajak bareng berangkat sekolah jadi bisa kenal deh sama dia. Bego gue, pikirku kenapa tadi ga minta nomor hp-nya, aku malah ngomong sendiri.
Esoknya pagi-pagi sekali, aku sangat bersemangat berangkat ke sekolah, orang-orang rumah sampai heran sendiri, soalnya boro-boro pergi ke sekolah pagi-pagi, dibangunin saja susahnya minta ampun. Biasanya aku pasti berangkat sekolah lima menit menjelang bel masuk, tapi semenjak ada Ayana rasa malas pergi ke sekolah jadi hilang. Aku berusaha memacu motorku. Semoga Ayana belum berangkat sekolah pikirku, biar bisa ngajak bareng Ayana lagi. Bertepatan saat aku sampai di dekat rumahnya, Ayana kulihat sedang membuka gerbang. Cepat-cepat aku hampiri dia, Hei Ayana, Sapaku. Hei Rezky Loh kok kamu ada disini? Iya jawabku, tadi sekalian pas aku lagi naik motor lihat kamu keluar dari gerbang ya aku samperin aja. Sekalian bareng yuk ucapku! Yah ngerepotin lagi dong ucapnya sambil tersenyum. Jangan bilang gitu lah, kan kita temen.
Sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri, siapa sih yang gak seneng berangkat bareng sama cewek secantik Ayana.
Sampai di sekolah bel masuk ternyata belum berbunyi hal ini aku manfaatkan untuk bisa lebih mengenal Ayana.
Aya, aku memulai pembicaraan. Kenapa kok kamu pindah dari sekolahmu yang lama ke sini? Oh itu karena orang tuaku mendapat tugas pekerjaanya ya di kota ini, dan berhubung karena orang tuaku juga dari dulu sudah punya rumah disini makannya aku dimasukkan ke sekolah ini, sekolah SMA terdekat dari rumahku. terus hobi kamu apa aja Aya? Hobi aku Nyamyi, dance, pokoknya yang berhubungan dengan Musik, terus aku suka bersepeda, dan juga Tidur Hehehe… kalau kamu? Nah lho kok tidur? Biarin jawab Aya. Kalau aku juga hampir sama hobinya aku suka nyanyi, main gitar, dengerin musik, bersepeda, baca Novel dan futsal.
Teeeettt… bel masuk berbunyi kami pun mengakhiri pembicaraan kami dan fokus pada pelajaran. Singkat cerita, pelajaran hari ini sudah berakhir. Kami pun bergegas membereskan semua peralatan dan bersiap pulang. Aya nanti sore ada acara tidak? Aku bertanya pada Ayana. Enggak memangnya ada apa? Sahut aya. Gimana kalau nanti sore kita bersepeda yuk, kita cari udara segar sambil aku ajak kamu keliling daerah sini, oh boleh boleh, sekalian juga aku mau jalan-jalan soalnya bosen juga diam di rumah seharian. Oke nanti aku jemput ke rumah kamu jam 4 sore ya Aya, iya nanti aku tunggu deh! Oke yok kita pulang. Sipp.
Setibanya di depan rumah Aya, terimakasih ya Rezky udah nganterin aku pulang, sampai ketemu nanti sore ya, hati hati di jalan. Iya makasih Aya… diapun segera melangkah menuju rumahnya. Tiba-tiba aku ingat sesuatu, Aya! Panggilku, iya ada apa Rezky? Hampir aku lupa boleh aku minta nomor Hp kamu? Oh ya tentu boleh lah. Ini nomorku 08xx xxxx xxxx udah ya. Daaah! Aku pun senang bukan kepalang bisa mendapat nomor hp Ayana, aku amati nomor telepon Ayana, rasannya aku pernah lihat nomor ini, tiba-tiba aku teringat seorang cewek bernama Ayana yang dulu pernah salah telepon ke nomorku yang dia sangka Rizal. Ternyata memang benar, nomor salah sambung dulu benar benar nomor Ayana yang saat ini ada padaku. Ini pasti sebuah pertanda, pikirku senang.
Pukul 16.00 sore aku sudah menunggu Ayana di depan rumahnya setelah sebelumnya aku SMS dia, tidak lama, Ayana pun keluar. Hei kita mau kemana nih Rezky? Ke taman saja yuk biasanya jam segini banyak juga yang bersepeda disana, oke let’s go!!!
Sepanjang jalan kami ngobrol dan bertukar pengalaman tentang keadaan sekolah, pelajaran, keluarga, hobi dan lain lain sampai akhirnya aku bertanya padanya. Aya kamu inget gak waktu itu kamu pernah salah telpon ke aku? Salah telpon? Kapan ya? Waktu itu hari minggu kamu mau nelpon orang yang namanya Rizal tapi ternyata malah nomor aku yang dipanggilnya. Yang bener? Sebentar aku ingat ingat dulu, oh iya aku inget waktu itu aku mau telepon saudara aku Rizal buat nanyain alamat sekolah. Ternyata Rezky yang ditelepon itu kamu ya! Hehe iya kayaknya itu udah pertanda deh Aya ucapku tanpa sadar keceplosan. Pertanda apa? tanyanya sambil tersenyum. Aku jadi salah tingkah, Oh eh enggak kok hehe becanda.
Hari-hari kami lalui bersama, aku semakin akrab dengan Ayana, kami kini sudah tidak canggung lagi ngobrol, belajar bersama, mengerjakan tugas, jajan di kantin, pulang dan berangkat bersama. Sampai suatu hari di kelas aku ingin pinjam buku catatan Sejarah Ayana, karena aku kemarin lupa mencatat. Saat itu Ayana sedang pergi ke perpustakaan. Aku pun membuka tasnya dan secara tidak sengaja aku melihat sebuah buku catatan kecil yang terbuka. Aku membaca isi buku catatan kecil itu.
Dear diary 12 April 2012
Hari ini adalah ke sekian yang aku lewati bersama seseorang yang sangat berarti yang ku sebut sahabat, meskipun dalam hatiku aku selalu menganggap dia lebih dari sekedar sahabat. Sifatnya yang cuek tapi terkadang lucu dan menghibur, dia yang duduk sebangku denganku, dia yang selalu pergi dan pulang sekolah bersamaku, dan dia yang pertama kali kukenal saat mengajakku ke sekolah ketika aku kebingungan mencari alamat sekolah baruku. Entah sejak kapan perasaan suka ini ada mungkin sejak aku pertama mengenal dia, aku ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya tapi apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku?
Aku tertegun membaca buku diari Ayana, apa mungkin yang dimaksud Ayana dalam diari-nya itu aku? Akupun segera membereskan buku Ayana kembali dan tidak jadi meminjam buku catatan Sejarahnya. Aku terus kepikiran tentang isi diari – Ayana, sampai akhirnya Ayana menegurku. Rezky kok kamu melamun melulu dari tadi? Kamu sakit?, atau kamu ada masalah?. Eh enggak kok Ayana jawabku, aku Cuma ngantuk saja tambahku sambil tersenyum kepada Ayana. Oh kirain ada apa. Supaya gak ngantuk kita ke perpus saja yuk kita cari bahan bahan buat tugas kelompok Bahasa Indonesia. Ucapnya sambil menarik tanganku.
Aku benar-benar kepikiran soal diary – Ayana tadi, aku sih senang senang saja kalau Ayana menaruh perasaan suka padaku, karena dari awal ketemu dia juga aku sudah suka sama dia dan kagum dengan kecantikan dan kelembutannya. Tapi bagaimana kalau yang dimaksud Ayana dalam diary-nya itu ternyata bukan aku?. Aku jadi serba salah, kuperhatikan Ayana yang sedang mencari buku.
Saat di perjalanan pulang pikiranku pun tidak karuan, aku rasa aku harus bilang yang sejujurnya pada Ayana. Dengan hanya bermodalkan keyakinan, aku bertanya pada Ayana. Aya, boleh aku bertanya sesuatu? Boleh jawabnya, mau tanya apa?. Tadi waktu kamu sedang ke perpustakaan aku mau meminjam buku sejarah milik kamu, tapi aku menemukan sebuah diary kecil yang terbuka, terus aku baca isinya. Wajah Ayana tiba-tiba memerah dan dia pun tertunduk. Apa yang kamu maksud dalam buku diary itu adalah aku Aya?. Dia tidak segera menjawab. Benar Rezky, semua yang ada dalam diary-ku adalah kamu. Apa benar kamu menyukaiku Aya? Benar… Aku pun akhirnya lega. Aya aku juga ingin jujur sama kamu, aku sebenarnya suka sama kamu dari saat aku mengenal kamu, kamu cantik, lembut, dan baik hati serta bisa menghiburku di saat aku sedang ada masalah, aku sangat berharap hubungan kita bukan hanya sekedar sahabat tapi bisa lebih dari itu… mau kah kamu jadi kekasihku ayana? Ucapku dengan penuh harap. Kulihat Ayana tidak segera menjawab dia malah diam membisu. Aku pun segera berkata, kamu tidak perlu menjawab sekarang Ayana, dengan hanya kamu tahu saja perasaanku padamu itu sudah lebih cukup bagiku. Ya sudah Aya aku duluan ya, sampai jumpa Aya.
Malam harinya saat aku sedang termenung di jendela melihat kerlap-kerlip bintang di langit, aku mendapat sebuah pesan dari Ayana. Hai Rezky, kamu masih idup gak? Hehe sori bercanda. Mengenai pernyataan kamu tadi aku sudah pikirkan baik-baik, tapi maaf untuk saat ini aku rasa aku masih belum bisa nerima kamu jadi pacar aku, mungkin nanti ya kalau kita sudah sama-sama lulus SMA baru aku bisa terima kamu. Itu juga kalau kamu bisa nunggu hehe. Aku terlalu sayang sama kamu jadi aku gak ingin jika nanti kita putus, bakal ada permusuhan di antara kita. Lebih baik kita jalani aja seperti sekarang ya sebagai dua orang sahabat yang saling menyayangi, Oke!!
Aku membaca pesan Ayana itu, dan akupun bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Ayana. Mungkin memang itu yang terbaik buat kami berdua saat ini. Love You Achan aku akan selalu menunggumu.

Multimedia Design for Mobile Application


Baiklah kali ini saya akan membahas materi kuliah saya tentang "" tapi kali ini saya akan menjelaskan melalui video ini :




Wednesday, June 4, 2014

First Love

Waktu pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Pertama rasanya sangat senang sekali, apalagi bisa mengenal teman baru dan lingkungan sekolah yang baru, hari-hari masuk awal SMP sangat menyenangkan apalagi bisa bertemu teman baru.
Pada saat MOS gue mengenal teman cewek yang bernama Dita, dia orangnya asik, suka bergurau dan lumayan cantik menurut gue. Hari demi hari telah berjalan dan pada saat pembagian kelas gue sempat deg-degan karena gue ingin sekali sekelas sama temen gue yang bernama Dita tersebut, tetapi pada saat pengumuman pembagian kelas semua harapan menjadi sirna seketika setelah gue tidak satu kelas dengan dia, gue sempet kecewa tetapi kekecewaan tersebut tidak berjalan lama karena Dita menasihati gue, Dita: “meskipun tidak satu kelas kita tetep temen deket kok”. Gue sempet lega setelah dia bilang begitu kepadaku, hari-hari berikutnya kita pun sering kemana-mana bersama, karena kita sering bersama maka timbul rasa nyaman di antara satu sama lain dan rasa itu mulai muncul.
Tak terasa 1 tahun pun telah berjalan, kini gue naik ke kelas 2 SMP dan bahagianya lagi gue sekelas sama dia. Hari berganti hari rasa sayang pun mulai bermunculan, dan kita saling mengerti satu sama lain. Akhirnya gue memutuskan untuk mengganti status hubungan itu, yang sebelumnya menjadi “temen dekat” sekarang menjadi “berpacaran”. Hari-hari lebih bahagia setelah menjalin hubungan yang spesial dengan dia, 1 bulan telah berlalu dan semuanya berjalan dengan sangat menyenangkan, begitu pula bulan berikutnya.
Rasa tidak nyaman pun mulai terjadi ketika bulan ke 4 kita menjalin hubungan. Rasa itu ditunjukkan dia setelah menyembunyikan rahasia dengan temen sebangku gue yang bernama Iwan, gue pun mulai penasaran dengan apa yang dirahasiakan oleh mereka. tapi gue tetap tenang dan tidak berfikiran negatif terlebih dahulu.
Semakin gue tahan rasa tenang itu dan semakin gelisah yang gue rasakan, dan pada akhirnya gue pun mulai mencari informasi tentang rahasia yang disembunyikan oleh kekasih gue yang bernama Dita itu. Tetapi semua itu sia-sia, tidak ada seorangpun yang memberi tahu kepada gue.
Ketika gue sedang serius mengerjakan tugas dan pada saat itu waktu bertepatan dengan waktu istirahat seseorang pun datang menghampiriku, dia adalah Galang (temen sebangku gue sewaktu kls 1 SMP). Gue sempet bingung ketika dia menghampiriku dan sempet gemeteran karena gue kira gue ada masalah dengannya, ternyata dia bilang ke gue tentang semua rahasia yang yang disembunyikan oleh pacar gue
Setelah mendengar cerita dari temen gue itu gue mengucapkan banyak terimakasih padanya karena telah memberikan info tentang rahasia pacar gue, dengan rasa kecewa dan emosi tidak kusangka ternyata pacar gue jatuh cinta kepada orang lain. Keesokan harinya gue menghampiri pacar gue itu, gue tanya kepada dia
Gue: “apakah benar kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
Dita: “diapun seketika diam (dengan wajah sedikit ketakutan)”
Gue: “buat apa kita pacaran kalau kita tidak bisa terbuka terhadap pasangan kita masing-masing?”
Dan akhirnya diapun mulai angkat bicara dengan memandang ke arahku dan menatap mataku.
Dita: “maaf selama ini aku memang menyembunyikan sesuatu darimu”
Gue: “apa itu? (dengan wajah kecewa)”
Dia tidak mau cerita karena dia takut aku kecewa dan menjauhinya. Dan setelah beberapa menit kemudian dia pun mulai jujur tentang yang terjadi kepadanya.
Dita: “sebenarnya aku jatuh cinta kepada cowok lain”
Gue: “jatuh cinta kepada siapa?”
Dita: “dia pun mengambil handphone dari sakunya dan menunjukkan foto cowok yang dia sukai dan kita sudah merestui hubungan kita 2 hari yang lalu”
Gue: “mengapa kamu melakukan semua ini? (akupun termenung dan menatap serius ke arahnya)”
Akupun sangat terkejut mendengar cerita itu dan tidak menyangka dia setega itu kepadaku, dengan perasaan tega juga aku meninggalkannya sendirian di dalam ruang kelas. Akupun memutuskan untuk pulang dan tak menghiraukannya sedikitpun.
Sesampainya di rumah handphone gue berbunyi, gue lihat ternyata si Dita telpon gue tetapi tidak gue angkat soalnya gue masih marah dan kecewa kepadanya. Perasaan gue seketika hancur lebur dan tak ada semangat sedikitpun untuk pergi ke sekolah, tetapi setelah dibujuk dan dipaksa olek kakak gue, gue pun pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah gue pun langsung menghampiri Dita dan minta untuk mengakhiri hubungan kita selama ini. Dita pun sempet terkejut dengan apa yang gue ucapkan kepadanya, dia pun meneteskan airmata kekecewaan. Tanpa basa basi gue langsung pergi meninggalkannya.
1 bulan bulan berjalan tanpa kehadirannya lagi dan gue sudah anggap dia seperti teman biasa, pada saat pulang sekolah dia pun menghampiriku yang sedang duduk sendirian.
Dita: “kok belum pulang?”
Gue: “belum, masih nunggu temen (wajah cuek)”
Dita: “oh begitu yaa”
Gue: “kamu kok belum pulang?”
Dita: “masih nunggu jemputan”
Tidak lama kemudian jemputan Dita pun datang dan ternyata itu pacarnya, dengan wajah tersipu malu dia pun berpamitan ke gue. Gue pun membalasnya dengan senyuman, setelah itu gue pun menyusul pulang. Sampai di rumah gue sempet berfikir: “mengapa ya cewek yang sudah bukan milik kita lagi terlihat laebih anggun?” Dia saja bisa move on dari gue, jadi gue harus bisa juga dong (wajah gembira). Akhirnya hari-hari berikutnya gue hadapi dengan gembira dan aktivitas gue berjalan seperti biasanya.

Tuesday, June 3, 2014

Sekolah Itu

Biasanya sekolah tempat untuk anak anak belajar. Terkadang ada beberapa sekolah yang memiliki kisah mistis. Kita punya beberapa contoh, tapi kita ambil saja sekolah menengah keatas bernama Oona Onata. Di sekolah ini, terjadi kejadian yang tidak wajar. Bayangkan, setiap malam, bangku dan meja bergerak sendiri, bola terpantul-pantul seperti ada yang memainkan, dan banyak kejadian mistis lainnya.
“Emely, kamu mau masuk SMP mana?” Tanya Yumi, teman sekolahku.
“O, mungkin Oona Onata.” Kataku.
“O, aku juga mau masuk ke sana.” Kata Yumi.
“Eh, beneran kalian mau masuk Oona Onata?” Tanya Yemi yang kebetulan duduk di dekatku.
“Ya beneran lah. Kamu mau masuk sana juga?” Jawabku.
“Ihh, ogah banget aku masuk sana. Kalian belum denger ya, kalau disana banyak kejadian mistis?” Tanya Yemi.
“Wah kebetulan banget, aku seneng hal-hal mistis.” Kata Yumi antusias.
“Sama donk hobi kita.” Jawabku.
Tak lama kemudian bel berdering tanda pelajaran terakhir selesai. Ini hari terakhir kami bersekolah di Raita, sekolah kami yang lama. Setelah mengucapkan salam perpisahan, aku dan teman-temanku pulang. Liburan kuhabiskan dengan bangun siang dan nonton tv sampe malam.
Tak terasa liburan habis. Aku memakai seragam sekolah SMP Oona Onata. Sesudah itu aku turun untuk sarapan. Aku biasa naik mobil jemputan. Setelah mobil jemputan datang, aku menaiki mobil itu. Sesampainya di sekolah Oona Onata, aku segera mencari Yumi. Setelah kuperhatikan, ternyata anak dari SD Raita cuma aku dan mungkin Yumi. Setelah aku menemukan Yumi, kami berjalan ke aula. Setelah mendengarkan penjelasan, kami pulang.
Besok sudah akan dimulai pelajaran, jadi aku menyiapkan buku-buku yang akan dibuat untuk pelajaran. Memang SMP Oona Onata agak beda dari sekolah lain, sehingga kami mendapat pelajaran lebih dulu dari yang lain. Esoknya aku tiba di sekolah, dan langsung mencari Yumi.
“Yumi, apa bener sekolah ini angker seperti yang dikatakan Yemi?” Tanyaku gugup.
“Tidak mungkin, itu cuman takhayul. Gak ada yang namanya hantu.” Balas Yumi.
“Sekolah ini memang angker.” Kata kak Yvette, kakak kelas yang baru dikenalnya kemarin.
“Eh kak Yvette. Bikin kaget aja.” Kata Yumi.
“Kok bisa kak, sekolah ini angker?” Tanyaku.
“Dulu, di sekolah ini ada seorang gadis yang dibunuh oleh seorang guru yang merupakan ibunya sendiri. Mayat gadis itu masih ada di sekolah ini.” Jelas kak Yvette.
“Lalu mana mayat itu, kak?” Tanyaku.
“Belum ditemukan sampai saat ini.” Kata kak Yvette.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel tanda pelajaran akan dimulai. Kami segera memasuki kelas masing-masing. aku masih memikirkan misteri tentang sekolah yang berhantu ini. Ternyata pelajaran di sekolah ini tidak begitu sulit. Lalu kami pulang. Di rumah aku sibuk memikirkan tentang misteri sekolah itu. Tiba-tiba aku melihat secercah cahaya berwarna putih di cermin riasku. Cahaya itu membesar dan menjadi seorang gadis. Aku begitu ketakutan sehingga tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Bulu kudukku seakan merinding. Dan di benakku mengira-ngira apakah gadis ini ada hubungannya dengan sekolah itu.
“Jangan takut. Aku hanya ingin meminta kau dan Yumi untuk mencari mayatku yang tentunya telah menjadi tulang belulang.” Kata gadis itu.
“Aku memang sedang berusaha mencari misteri itu.” Kataku mulai berani.
“Malam ini juga, kamu dan Yumi harus mencari mayatku.” Kata gadis itu.
“Kenapa harus malam ini?” Tanyaku.
“Karena, ibuku malam ini akan mencari mayatku di sekolah kalian. Ibuku akan membakar tulangku dan memasukan rohku ke dalam botol, agar aku tidak bisa ke alam baka.” Jelas gadis itu.
“Tapi…” Kataku yang terputus ketika melihat gadis itu telah menghilang.
Aku segera menelpon Yumi. Yumi seperti tidak percaya, tapi untunglah ia mau ikut serta. Aku juga meminta kak Yvette untuk membantu menjadi pemandunya. Aku pun ke sekolah jam 11 malam. Ternyata Yumi sudah datang.
“Emely, kak Yvette tadi telpon aku. Katanya ia tidak bisa ikut, karena ada ulangan.” Kata Yumi.
“Ya udah kita cari dulu aja.” Kataku enteng.
“O ya tadi aku lihat nenek-nenek itu siapa ya?” Tanya Yumi.
“Astaga, kamu lihat dimana? Itu pasti mamanya gadis itu.” Kataku gelagapan.
“Di lab IPA.” Jawab Yumi.
Aku segera berlari ke lab IPA. Ternyata benar, ada nenek-nenek di sana. Nenek itu sedang sibuk mencopoti bagian-bagian dari kerangka manusia. Saking sibuknya, nenek itu tidak menyadari kehadiranku. Aku segera mangambil sebuah kayu dan memukul kepala nenek itu. Nenek itu pingsan. Aku segera mengambil tulang tulang itu untuk dikuburkaan selayaknya. Di pemakamannya, terlihat gadis itu tersenyum manis.
The End

Monday, June 2, 2014

13 Desember

Malam ini, seorang wanita berambut gelombang tengah berjalan dengan tergesa-gesa melewati jalanan yang begitu sepi. Terang saja, karena jam sudah menunjukan 11.45. wanita tersebut memakai pakaian khas winter, kedua tangannya berada di saku. sesekali ia menghembuskan uap dingin berupa asap karena keadaan di sana sangat dingin.
“aku tidak boleh terlambat” katanya, mengigit bibir bawahnya.
Kaki-kaki itu mulai melangkah menaiki lantai lift untuk menuju kamar apartemen yang hendak ia kunjungil. Dia menekan angka yang akan menghantarnya ke lantai 12.
Selama lift berjalan, kakinya tak henti-henti menghentak-hentak lantai, membuat suara hentakan mengema di lift yang tak besar itu. Nampaknya wanita ini tidak sabar untuk cepat berada di lantai 12.
TING..
Pintu lift terbuka lebar, Wanita itu berlari kencang mencari kamar apartement yang ia maksud. Nafasnya terdengar berat di ambang pintu. tangannya sudah siap membuka knop pintu berwarna perak. sebelum membukanya, dia memejamkan mata dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Kreettt..
DEG..
Matanya membulat, seketika seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kini wajahnya kian pucat. tubuhnya lunglai dan ambruk dengan keadaan duduk. dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sebulir air mata jatuh dari kelopak mata sebelah kanan, lalu disusul dengan yang satunya lagi. kini butiran air bening itu sudah tak terhitung, mungkin puluhan, ratusan atau bahkan jutaan.
kau terlambat..
Hawa dingin memenuhi seluruh ruangan apartement ini. seakan semua berubah di selimuti oleh es. ‘kau terlambat’ kata-kata itu bergemma disana. wanita itu menjerit hebat.
Ruangan gelap yang nyaris tak mendapat cahaya. hanya sinar bulan dari jendela yang terbuka memberi sedikit cahaya untuk melihat sekelilingnya. wanita itu, masih wanita yang sama. bersender di kayu jendela yang terbuka. tatapannya kosong melihat sebuah kotak musik.
Dia mengambil kotak tersebut lalu membukanya. terdengar alunan melodi-melodi yang tersusun rapi tapi terdengar menyeramkan.
Ia menaruh kotak tersebut lalu mengambil pisau yang sudah tersedia di meja kecil dekat ranjangnnya.
lama ia berdiam, ia mulai mengerakan pisau tersebut ke arah urat nadi di pergelangan tangannya.
“na.. na.. na.. na..” ia bersenandung kecil sambil menyeset pergelangan tangannya secara melingikar. Senandung itu terdengar mengerikan. dia masih menatap bulan dan bintang di sekitar langit yang terpapar luas. wanita itu menyeset pergelangan tangannya tepat di atas kotak musik, sehinga darah bersibah memenuhi kotak musik yang masih berbunyi itu
pisau itu sudah menyeset setengah.. lalu mulai memotong urat nadinya.
srrttt…
Taylor P.O.V
Terima kasih telah membuat tahun-tahun ku indah dan mengerikan saat 22 july. aku tau arti senyuman itu. senyuman kemenangan. kau terlalu tangguh untuk ku kalahkan. sekarang aku tenang. sekarang aku bersama mereka. aku sudah bebas dari semua ini. nikmati kehidupan baru mu.
FLASHBACK ON
Perkenalkan aku Taylor Lynch, kalian bisa memanggilku Taylor. Aku seorang wanita yang hidup sendiri tanpa siapa-siapa. izinkan aku menceritakan bagaimana semua ini terjadi.
13 Desember, saat itulah aku berada di dunia, melihat dunia dan merasakan oksigen yang biasa dihirup manusia. aku telah lahir dan akan mengalami apa yang biasa semua orang alami.
tapi.. sepertinya aku adalah pengecualiannya.
Sebelumnya aku peringatkan pada kalian, jangan pernah mencintai ku!!
Sore yang cerah, aku berjalan dengan buku-buku pelajaran kuliah.
brukk..
buku ku berserakan karena seseorang menabrak ku. aku pun merunduk dan ikut membereskannya. kami belum saling melihat, yang ku dengar hanya kata-kata maaf yang berulang kali ia katakan. tiba-tiba saja tangan kami bertautan saat kami mengambil buku yang sama. ak mendongkakan kepala ku dan melihatnya. pertama kali yang kulihat adalah sepasang mata yang indah. itu berhasil membuat ku bungkam.
“maaf” katanya yang membuat tersadar. Aku bangkit dan meninggalkannya.
Biasanya sehabis pulang kuliah aku berkerja di sebuah cafe kecil di pinggir jalan, cliff – coffe cafe
kau pasti bisa menebak siapa pemiliknya? aku baru bekerja di sana sekitar 2 bulanan. baru bukan? alasan mengapa aku berkerja di sini karena.. gajinya lumayan dan Cliff mengijinkan ku datang kapanpun. entah kenapa dia begitu baik pada ku padahal aku baru di dalam hidupnya.
Saat aku memasuki pintu cafe, lautner sudah menyambut ku dengan celemek seragam karyawan di tangannya. aku mengambilnya dan segera memakainnya.
“bagaimana tadi kuliah mu, menyenangkan?” tanyanya saat aku baru saja keluar dari ruangan ganti. Aku melewatinya dan membersikan meja biasa aku meracik coffe.
“biasa saja, sama seperti biasanya” kataku. dia mendekati ku, memandang ku dengan tatapan yang… berlebihan.
“apa malam ini kau ada acara?”
“tidak” jawabku tidak peduli
“mau makan malam bersama ku” aku masih bungkam
“aku teraktir, dan aku akan antarkan engkau dengan selamat, tenang saja” tambahnya.
aku masih tidak peduli, tiba-tiba saja aku merasa tangannya mengenggam.
“ku mohon, aku akan tambahkan gaji mu bulan ini” rayunya. well.. aku bisa punya uang tambahan, menarik. Lagi pula hanya makan malam saja kan?.
“oke” jawab ku.
“Taylor.. ada yang datang” aku menoleh dan segera mengambil note kecil untuk mencatat pesanan.
“selamat sore, mau pesan apa tuan?” tanya ku, dia menoleh.
Ya Tuhan, sepasang mata itu..
“aku mau coffe latte saja 2″ aku segera mencatat pesanannya.
“oke 2 coffe latte saja” ulangku memastikan, dia mengangguk
aku pun segera pergi meninggalkannya.
Aku datang lagi membawa nampan berisikan coffe latte hangat dan meletakannya di atas meja.
“tunggu” aku berhenti
“duduk” suruhnya. aku menolak.
“tidak apa, sini” dengan ragu aku duduk disana.
“kau yang tadi ku tabrak kan?” aku memalingkan wajah, dia mengingat ku
“em.. ehh mungkin, aku harus kembali bekerja” lagi-lagi dia menahan ku
“minumlah, ini sengaja ku pesan untuk mu, maaf hanya coffe latte” dia, menyodorkan coffe itu.
“tidak apa-apa aku.. sudah biasa. tak perlu seperti ini, maaf aku harus kembali bekerja” aku pamit
Malam saat cafe di tutup, Cliff menagih janji ku untuk sekedar dinner bersama.
kami tiba di sebuah restoran bernuansa kental itali yang cukup mewah, pasti harga makanan di sini mahal.
seorang pelayan datang dan lautner memesan 2 gourmet omelettes italian juga minumannya, green tea pannacotta.
“Tay..” panggilnya. dia memegang tangan ku,
“pesanannya” kata seorang pelayan menaruh makanan, lautner pun melepas tangannya.
setelah pelayan tadi pergi Cliff kembali memegang tangan ku, jujur aku risih. tapi ini terlalu sulit untuk dilepaskan. kalau aku paksa yang ada tangan ku patah.
“Tay.. aku mau bilang sesuatu padamu” jangan bilang ia..
“emm.. makanannya akan dingin jika kita terus berbicara, ayo makan” ujar ku mengalihkan pembicaraan.
Dia tersenyum dan memakan omellet nya.
kami pun pulang. aku sama sekali tidak mengizinkannya berkata kata-kata pembawa maut itu. Sungguh
Esokan harinya aku kembali berkuliah. dan aku kembali bertemu dengan pria itu. entah siapa namanya.
“hai..” sapanya, aku hanya bisa tersenyum.
“hai.” sapa ku balik
“aku jack, mau ku antar pulang?” tawarnya, aku menggeleng
“aku harus kerja, bukan pulang” kata ku melewatinya
“umm.. bagaimana kalau aku antar ke tempat kau berkerja, di Cliff coffe cafe kan? ngomong-ngomong namamu siapa?”
“aku Taylor, tidak, tidak usah malah merepotkan” tolak ku
“tidak. anggap saja permintaan maaf ku karena hal kemarin okey?” aku mengangguk. kurasa dia pria yang baik, dia memiliki wajah yang tampan cocok dengan namanya Jack.
Jack pun menghantar ku ke cafe dengan motor besarnya. cowok sekeren justin memakai motor besar?, kukira dia tipe pria yang selalu naik mobil mewah?
“emm.. terima kasih” kata ku
“eh.. ia aku juga mau bersantai di dalam boleh kan?” katanya. aku mempersilahkan justin untuk masuk.
dia kembali memesan coffe latte yang sama.
Dia selalu datang ke cliff coffe cafe setelah kuliah dan terus memesan hal yang sama ’2 coffe latte’ dan dia selalu memberikan 1 coffenya untuk ku. aneh. kurasa itu memang caranya untuk mencari kesempatan agar bisa sekedar mengobrol dengan ku.
13 Desember, aku tak yakin ada yang mengingat hari bersejarah ini, mengenang tak ada satu sanak saudara ku yang dapat merayakannya. Aku pun beraktifitas seperti biasanya.
yah ku bilang seperti biasa, sehabis pulang kuliah aku kerja di Café Cliff, tapi..
ada yang aneh.. OMG.. Cliff..!!
jangan bilang bahwa dia mencintai ku,
Saat aku memasuki cafe aku melihat Cliff sudah terbujur kaku dengan kotak kado di atas tubuhnya. dia memegang 1 tangkai bunga mawar dengan darah di tangkai dan kelopaknya. cafe ini terlihat seperti ruangan mayat karena tidak ada satu pun karyawan atau pengunjung yang berada di sini, aku tak tau kemana karyawan lainnya. mata ku menelusuri setiap sisi ruangan dan aku mendapati seorang wanita yang familiar untuk ku dia berwajah seram, tak ku sangka. ternyata benar. Cliff, dia diikuti oleh
Carrie..
Carrie memandangku dengan tatapan tajam nya namun bibirnya membentuk lekungan, dia tersenyum. senyuman familiar yang kudapati setelah aku bersama mayat seseorang yang ia bunuh, ini bukan yang pertama..
“mencintai mu adalah kesalahan terbesar.. hahaha, Kau terlambat” dia menghilang, entah kemana. aku hanya mampu menitikan air mata di atas jasad Cliff yang notabenya adalah bos ku.
NINU.. NINU..
Suara Mobil Ambulan datang dan beberapa polisi juga menayakan beberapa pertanyaan padaku, karena hanya aku lah yang berada di sana.
Di rumah aku membuka kado yang Cliff persembahkan untuk ku sebelum kematiannya. Ternyata sebuah boneka berwarna putih dengan bantal love bertuliskan ‘be mine’
aku menangis sejadi-jadinya. Aku memeluk boneka itu. tanpa ku sadari secarik kertas jatuh. aku mengambilnya
Hey Tay…
Happy Birthday Taylor Lynch
kau pasti bingung kenapa aku bisa tau tanggal lahir mu?
aku tau dari identitas mu, emm.. aku sebenarnya sudah lama
ingin mengatakannya. tapi kau selalu tak memberikan ku kesempatan
untuk itu. aku mencintai mu Tay please be mine? kau satu-satunya
wanita yang membuat ku benar-benar terpikat. Apa kau tidak sadar
akan hal itu? Ku harap ka menyukai Boneka Teddy Bear ini, jika kau rindu aku
peluk saja boneka ini.
love you :)
Bodoh!! kau pria yang bodoh, Cliff!! aku tak mau kau mencintai ku.
kau mencintai ku sama saja kau mencari malaikat kematian.
aku menjerit meratapi seberapa sedih nya kehidupan ku. aku memeluk erat boneka pemberian lautner
tiba-tiba saja aku tertidur. aku bukan tertidur. aku seperti pergi ke masa lalu, melihat asal-usul darimana kutukan ku berasal.
Hal pertama yang ku lihat adalah saat seorang bayi mungil tak berdosa lahir dari seorang rahim wanita yang seharusnya ku panggil mommy. ternyata mom meninggal saat melahirkan ku, yah 13 Desember ia meninggalkan ku. itu sebab aku tak pernah tau bagaimana rupa mom. mom di makamkan dan ayah terlihat begitu membenci ku. aku ingat itu saat aku berusia 5 tahun ayah tak mau mengantarku ke sekolah, padahal itu hari pertama ku sekolah. akhirnya aku pergi di antar tetangga yang kebetulan anaknya juga satu sekolah. 13 Desember juli datang lagi, dan ayah meninggal. aku tak tau kenapa sebabnya saat itu. namun di sini aku dijelaskan. Saat itu ayah ternyata mulai mencintai ku, dia mencintai ku karena baru menyadari betapa kejamnya dia selama ini pada ku. Aku pun di asuh oleh nenek dan kakek dari keluarga ayah. dan pada umur 10 tahun mereka juga meninggal kan ku. yah, mereka berdua. Saat itu aku menangis dengan jutaan pertannyaan di otak. kenapa mereka meninggalkan ku di saat hari bahagia ku?.
aku kembali sendiri, aku tinggal di panti asuhan, dan beberapa bulan kemudian ada yang mengasuh ku. sampai aku harus kabur dari rumah megah milik ayah tiri ku yang juga seorang polisi itu. aku meninggalkan mereka karena ayah tiri ku hampir mencoba memperk*sa ku. Aku hidup di jalan saat berusia 16 dan kembali lagi aku di asuh oleh tetangga ku yang sering menghantar ku sekolah dulu. di sana aku sangat bahagia karena ada demi, teman ku yang sekarang menjadi saudara ku. tak lama kemudian mereka sekeluarga meninggal di tanggal 13 Desember. Aku kembali sendiri hingga ku kira umur ku cukup dan aku mulai berkerja di toko kue. dulu aku menjadi pribadi pendiam dan sombong, ketus. Itu kulakukan agar tak ada yang menyukai ku.
Cukup lama aku berkerja seperti itu hingga lulus. Kabar sangat mengejutkan saat beberapa hari setelah kelulusan Nick pria yang ku cintai dia juga meninggal di tanggal yang sama. Aku sempat putus asa karena menganggap semua ini tidak adil. sampai saat aku hendak bunuh diri dengan meloncat dari atas gedung apartemen seorang nenek mencegah ku, dia menasihati ku dan memberi tahu ku tentang asal kutukan ini. nenek itu bilang kalau dulu mom mengandung aku dalam keadaan yang sangat aneh. aku mati di dalam rahimnya. aku sendiri tidak percaya. Mom ku depresi dan berlari ke sebuah hutan, di sana mom meneriaki sebuah kata-kata yang tak ia sadari membawa kutukannya padaku. “tolong hidup kan anak ku kembali, maka apapun resikonya akan kami terima” setelah itu mom pingsan seorang makhluk gaib mencari nyawa bayi lain yang memang ditakdirkan mati lalu memasukkan roh itu ke dalam tubuh ku, alhasil aku kembali hidup dan dilahirkan. namun makhluk itu memberi kutukan bahwasanya ada yang mencintai ku akan mati. dengar-dengar marie mati karena saat hitungan hari ia akan menikah dengan orang yang dia cintai, tiba-tiba pergi dengan alasan tidak mencintainya. sedangkan seorang pria lain yang mencintainya, membunuhnya dengan alasan cinta tak terbalaskan, maka dari itu marie membenci orang yang mencintai. Carrie masih ingin hidup normal dan menjalani pernikahan lalu mempunyai anak. dan saat mom meminta permohonan itu Carrie menerimanya. dia berfikir ini kesempatan bagus untuk membalas rasa sakit hatinya. ia akan menggangu setiap orang yang mencintai ku, karena dia cemburu. dan kemungkinan besar dia ingin aku membunuh ku perlahan, dan jika aku mati, dia akan menempati jasad ku dan memulai kehidupannya sebagai seorang manusia normal lainnya.
Aku terbangun dengan mata sembab dan boneka teddy bear pemberian lautner. aku mengerti sekarang.
“siapapun yang menjelaskannya, terima kasih” aku berbicara sendiri.
Aku sedang dalam perjalanan ke makam keluarga ku. kalau di lihat-lihat, ini bisa jadi fenomena. 1 keluarga meninggal pada tanggal yang sama. menarik
aku mendatangi makam mom dulu. aku memberinya bunga dan mengecup nisannya. air mata ku kembali jatuh. aku lakukan hal yang sama pada ayah, kakek dan nenek.
‘terimakasih semua, kalian pertaruhkan nyawa demi mencintai ku” aku menunduk memberi hormat pada mendiang-mendiang yang terbujur kaku di bawah tanah.
saat aku berbalik arah, tubuh tegap memeluk ku. aku mendongkakan kepala ku
“J.. jack…” jack tersenyum dan menghapus air mata ku. Aku tidak tau sejak kapan ia disana.
“kau jelek kalau menangis, huh” katanya mencolek hidung ku. “ayo kita pulang, ”
“tidak, aku bosan di rumah, bagaimana kalau kita ke taman” ajak ku
Kami pun berjalan-jalan di sebuah taman kota yang luas.
“emm Tay.. kau sudah tidak berkerja yah?” ujar Jack
“i.. ya.. cafe itu ditutup setelah Cliff meninggal” kata ku ragu.
“ohh.. mau berkerja di tempat ku?” aku menoleh
“kerja apa?”
“emm.. kau hanya perlu menghias cupcake” katanya
“aku suka cupcake, aku mau!!” ujar ku senang
“mulai besok kau kerja yah” aku mengangguk semangat
Aku berkerja di cake shop milik ibunya Jack, dan semakin lama kami semakin dekat.. dekat… sangaaattt dekat…
Kami berdua ke dapur cake shop yang sebetulnya libur, aku ingin membuat menu baru dengan Jack.
Kita bukannya membuat kue terbaru malah membuat dapur hancur bak kapal pecah.
“Jack… hentikan mata ku pedih” ujar ku melempar terigu ke wajahnya.
“kau juga..” dia makin menjadi-jadi
“aduhh. perih” kata ku mengusap mata ku
Jack mendekati ku dan merenguh wajah ku, jantung ku berdebar
“sini aku tiupin” Jack meniup mata ku, aku menatapnya
menatap wajah lucunya yang begitu putih karena terigu-terigu hasil perang tadi.
“te.. terima kasih” kata ku menunduk
Jack memegang dagu ku, memaksa ku menatapnya
Dan itulah
saat paling indah dalam hidup ku, sejak saat itu kami menjadi sepasang kekasih.
Sudah 1 tahun kurang kami berpacaran. saat itu Jack mengajak ku kencan di sebuah cafe. kami akan bertemu jam 09. 00 kami sepakat.
tapi aku tak menemukannya. malah seorang pelayan memberi ku kotak kado dan ku baca secarik suratnya.
Dear my lovely
Happy Birthday sayang, kau tau aku mencari kado
yang pas. tapi maaf aku hanya bisa memberi mu kotak musik
tapi setidaknya aku punya cinta yang besar untuk mu.
aku berharap kita akan teruus bersama
aku mencintaimu.
love you
tubuh ku mengejang. aku baru sadar dengan kutukan ku.
aku mengambil ponsel dan menghubungi justin
“jack ka-kau di mana”
“aku di apartemen ada yang ketinggalan ”
Aku khawatir, lama aku menunggu, Jack tak kunjung kembali, maka aku putuskan untuk ke apartemn nya
AUTHOR P. O. V
Selama lift berjalan, kakinya tak henti-henti menghentak-hentak lantai, membuat suara hentakan mengemma di lift yang tak besar itu. Nampaknya Taylor tidak sabar untuk cepat berada di lantai 12.
TING..
Pintu lift terbuka lebar. selena berlari kencang mencari kamar apartemen yang ia maksud. Nafasnya terdengar berat di ambang pintu. tangannya sudah siap membuka knop pintu berwarna perak. Sebelum membukanya, dia memejamkan mata dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Kreettt..
DEG..
Matanya membulat, seketika seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kini wajahnya kian pucat. tubuhnya lunglai dan ambruk dengan keadaan duduk. dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sebulir air mata jatuh dari kelopak mata sebelah kanan, lalu disusul dengan yang satunya lagi. kini butiran air bening itu sudah tak terhitung, mungkin puluhan, ratusan atau bahkan jutaan.
kau terlambat..
Hawa dingin memenuhi selruh ruangan apartement ini. seakan semua berubah di selimuti oleh es. ‘kau terlambat’ kata-kata itu bergema disana. Taylor menjerit hebat.
Ruangan gelap yang nyaris tak mendapat cahaya. hanya sinar bulan dari jendela yang terbuka memberi sedikit cahaya untuk melihat sekelilingnya. masih selena yang sama. bersender di kayu jendela yang terbuka. tatapannya kosong melihat sebuah kotak musik.
Dia mengambil kotak tersebut lalu membukanya. terdengar alunan melodi-melodi yang terdengar menyeramkan.
Ia menaruh kotak tersebut lalu mengambil pisau yang sudah tersedia di meja kecil dekat ranjangnnya.
lama ia berdiam, ia mulai mengerakan pisau tersebut ke arah urut nadi di pergelangan tangannya.
“na.. na.. na.. na..” ia bersenandung kecil sambil menyeset pergelangan tangannya secara melingkar. Senandung itu terdengar mengerikan. dia masih menatap bulan dan bintang di sekitar langit yang terpapar luas. wanita itu menyeset pergelangan tangannya tepat di atas kotak musik, sehinga darah bersibah memenuhi kotak musik yang masih berbunyi
pisau itu sudah menyeset setengah.. lalu mulai memotong urat nadinya.
srrtttttt..
Usai sudah ia memotong urat nadinya, darah makin berjatuhan di atas kotak musik pemberian pujaan hati. Taylor tersenyum saat matanya mendapati sosok yang ia benci selama ini, Carrie. yah, dia tersenyum lebar dengan darah yang membuat di sudut sisi ruangan yang gelap, memperhatikan selena yang sudah pasrah akan kehidupan ini. selena hanya mampu tersenyum.
pisaunya yang Taylor genggam jatuh dan matanya secara perlahan tertutup.
Terima kasih telah membuat tahun-tahun ku indah dan mengerikan saat 13 Desember. Aku tau arti senyuman itu. senyuman kemenangan. kau terlalu tangguh untuk ku kalahkan. sekarang aku tenang. sekarang aku bersama mereka. aku sudah bebas dari semua ini. nikmati kehidupan baru mu.
KINI SEMUA TELAH BERAKHIR. AKU AKAN TERUS BERSAMA JACK DAN SEMUA YANG MENCINTAI KU. DIA SEKARANG MENDAPAT YANG IA MAU. SELAMAT!!
KINI AKU TELAH TIADA, JIKA JASAD KU MASIH BERGERAK, BERJALAN, ATAUPUN BERBICARA. INGAT!! ITU BUKAN AKU, ITU CARRIE, DENGAN JIWA IBLISNYA. SEKARANG DIA BAHAGIA, AKU TAHU ITU.

Sunday, June 1, 2014

Rania

Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali
sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya
Aksara sudah pulang ke rumah.
“Aku tak bisa, Dai.”
Itu adalah ucapan Rania yang sudah dikatakannya lebih dari lima kali sepanjang kami
berbincang sejak bel pulang berbunyi tadi.
Kenapa? aku membatin.
“Kenapa?” aku bertanya hati-hati.
Kuamati lagi gadis yang duduk gelisah di hadapanku ini. Tak mengerti dengan jalan
pikirannya yang selalu berbelit-belit.
Apa sebenarnya dasar logis yang dimiliki Rania sehingga ia menolak kedatangan
cinta yang sudah lama diharapkannya?
“Aku tahu kamu sangat mencintainya, Rania. Terlampau mencintai, malah. Jadi apa
alasannya kamu menolaknya? dia sudah datang untukmu!”
Hampir-hampir saja aku tak bisa menahan amarahku. Syukurlah ada angin yang
berhembus melewati kami dan membuat kekesalanku sedikit berkurang..
Duh.. Rania sungguh keras kepala! umpatku dalam diam.
“Aku… Aku tak bisa, Dai.. Dan kamu tahu sebabnya kenapa.”
Ah… Aku terhenyak ketika kudapati buliran kristal cair itu luruh dari kedua mata Rania.
Ia menangis…
Habis sudah keberanianku untuk mendesak Rania yang keras kepala. Aku pun
menunduk memandangi es kelapa di gelas Rania yang tinggal setengahnya. Memikirkan apa
yang seharusnya kuucapkan lagi agar Rania merasa lebih baik.
Rania mungkin saja benar. Dengan mengatakan bahwa aku tahu sebab dari pilihannya
itu. Kenapa ia menolak kedatangan Bri dan malah memilih untuk menjauh darinya. Kukira
sebabnya adalah karena Rania merasa ia tak berhak untuk memiliki kebersamaan dengan Bri..
Bri sudah memiliki Syifa. Dan Rania tak ingin merusak keharmonisan Bri dan keluarga
barunya.. Dan lagi,, ada neneknya yang tinggal seorang diri di rumah mendiang ayahnya.
Bagaimana mungkin Rania tega meninggalkannya sendiri? Akhirnya, Rania pun memilih
menolak permintaan Bri yang mengajaknya tinggal bersama. Aku tahu, Rania mencoba untuk
mengalah (lagi). tapi tetap saja…
“Dai,, aku tak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.”
Rania tersenyum lemah. Mendengarnya berkata begitu, masih tak cukup meyakinkan
diriku bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. Aku tahu hatinya pasti sedih sekali. Tapi apa
yang bisa kulakukan lagi untuknya? aku hanya sahabat yang hanya bisa mendengarkan. Tak
bisa lebih dari itu!
Akhirnya aku pasrah. Biarlah Rania dengan keputusannya itu. Hanya saja kuharap, ia
bisa kembali ceria seperti Rania yang kukenal dulu.
^_^
“Rania…”
Aku terkejut ketika mendapati Bri yang tengah berjalan ke arah kami. Rania spontan
menoleh ke belakang. Butuh beberapa detik untuknya sebelum ia bisa menyahut panggilan
Bri kepadanya.
“Ibu…”
Bri tersenyum lembut mendengar suara Rania. Sedikit ayunan angin di jilbab putihnya
membuat Bri tampak cantik sekali. Sementara di sampingnya, Syifa berjalan perlahan
mengikuti Bri dan menatapku.
Aku diam. Tiba-tiba saja merasa tak pantas berada di sini. Tapi aku tak bisa kemanamana
dikarenakan Rania tadi segera memegang ku erat-erat. Akhirnya kuputuskan untuk
diam saja.
“Pulanglah bersama ibu, nak. ayo.”
Rania tampak akan menangis lagi. Kali itu, Bri sudah duduk di sampingnya. Tangan
kirinya masih memegang tangan Syifa agar tak pergi kemana-mana. Dan Syifa masih
menatapku penasaran. Aku masih tetap memilih diam.
“Rania pulang ke rumah nenek saja, bu.. Tak apa-apa.”
Bri tersenyum sebentar sebelum akhirnya kembali bicara,
“Maafkan ibu, Nia. Maafkan ibu karena sudah meninggalkanmu bersama ayah. Maafkan ibu
karena lebih memilih islam dibandingkan kalian, keluarga yang juga sangat ibu cintai. …” Bri
berhenti berucap. Terlihat matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Lalu, lanjutnya lagi..
“Tapi… ibu tak pernah menyesal dengan keputusan ibu lima tahun lalu itu, nak.. Yang ibu
sesalkan adalah ibu tak bisa membawamu serta bersama ibu. Saat itu ayah tak mengizinkan
ibu untuk membawamu.. Ia tak mau kamu meninggalkan cinta kepada Yesus.. Dan ibu tak
berdaya…”
Rania tak bisa menahan buliran air matanya. Ia menatap Bri dengan pandangan penuh
cinta. Ia tahu pasti bagaimana kesusahan yang dialami ibunya ketika dulu memilih berpisah
dari ayahnya. Ibunya jatuh cinta kepada Islam. Yang akhirnya membuat pernikahan mereka
harus diakhiri. Meski mereka masih sama-sama mencintai..
“Tapi kini..” lanjut Bri berkata.
“Kini ayah sudah meninggal. Kamu bisa ikut dengan ibu, Nia.. Kita kembali bersama sebagai
satu keluarga. Meski…” Bri melirik sekilas ke arah Syifa. Balita empat tahun itu tampak asyik
melihatku. Dan ini membuatku sedikit jengah.
” …Meski kini ibu sudah memiliki keluarga baru. Tapi ibu tetap mencintaimu, Rania..
Tinggallah dengan ibu.. ibu mohon…”
Bri pun tampak tak lagi bisa menahan airmatanya. Ibu dan anak itu saling menatap
dengan tangisan di pipinya. Saling memandang. Mengharapkan satu sama lain untuk saling
memiliki.
Sementara aku?
Hampir saja aku menangis. Tapi tidak! Aku tak bisa menangis… Aku masih bergumul
dalam haru dan kediamanku saat ini.
“Ibu…” Rania akhirnya berucap juga.
“Rania sudah memaafkan ibu. Rania mengerti dengan pilihan ibu. Rania pun sangat
mencintai ibu. Tapi…” Rania diam sejenak. “…Rania harus bersama nenek. kasihan nenek. ia
hanya tinggal seorang diri.”
‘Hancur’ mungkin adalah kata yang tepat untuk menjelaskan hati Bri saat mendengar
penuturan Rania itu. Sedikit banyaknya aku tahu, Bri berharap Rania, puterinya mau ikut
tinggal bersamanya dan juga mau menerima Islam seperti dirinya.. Tapi apalah daya. Rania
sudah sangat keras kepala (meneguhkan hatinya) untuk mengambil pilihan ini.
Saat itu, Syifa masih menatapku penasaran. Tapi aku mengacuhkannya.
“Baiklah… Ibu mau menerima keputusanmu, nak.. Tapi ibu sangat berharap Nia kelak bisa
tinggal bersama ibu.”
Rania melihat mendung dan kecewa itu di mata Bri. Kami sama-sama melihatnya.
Aku tahu, Rania pasti merasa sangat bersedih juga dengan keputusannya ini. Sehingga
sejenak kemudian, dalam tempo yang cukup lambat, ia kembali berkata.
“Meski Nia tidak tinggal bersama ibu…” Rania terdiam lagi dan terlihat seperti meneguhkan
hatinya untuk bisa melanjutkan ucapannya
“…Nia bersyukur karena Nia juga bisa jatuh cinta pada pilihan ibu lima tahun lalu.”
Bri terpana. Aku juga. Syifa tampak kebingungan menatap ke ibunya dan Rania.
“Alhamdulillah…” ucap syukur Bri saat memeluk Rania.
“Alhamdulillah…” ucap Rania untuk semua kebaikan yang dialaminya di hari itu.
Aku terharu. Aku berharap bisa menangis bersama ibu dan anak itu. Mensyukuri
lahirnya keimanan baru yang merengkuh kehidupan baru Rania. Merubah segalanya jadi
indah pada akhirnya. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam.
“Kak Rania..” Suara mungil Syifa terdengar lembut. Bri dan Rania melepas pelukannya dan
beralih melihat Syifa.
“Boneka beruangnya lucu. Namanya siapa? Buat Syifa ya?”
Aku beralih menatap Rania. Ia tersenyum mengangguk dan kemudian berkata dengan
senyum penuh di wajahnya. Membuatku tak kuasa menahan senyumku juga..
“Namanya Dai… Dan kamu bisa memilikinya. Dai adalah sahabat yang sangat baik. Mama
Britani yang kasih Dai buat kakak..”
Aku tersenyum.. Kubagi pula senyuman itu untuk ketiga orang perempuan di
hadapanku. Perlahan Rania melepas pegangan tangannya dariku dan tiba-tiba saja aku sudah
ada dalam pelukan tangan mungil Syifa.
Saat itu,, kurasakan bahagia yang tak ada kiranya.
Dan aku tahu pasti, ini semua disebabkan oleh satu hal.
Cinta Keluarga.
^_^…
>>>sedikit quote tambahan dariku: mom’s love always around u. (senyum lagi ah…)^_^.
(ini semua tentangmu, “ibu”)…