Popular Posts

Thursday, March 27, 2014

Aku Membusuk Dalam Bayangan Masa Lalu

Lapuk jiwa ini tersiram lara yang sulit tuk ku keringkan, dimana langkah ini harus ku hentikan begitu lelah ia mencari kepingan–kepingan cinta yang mungkin masih tersisa. Ku raba mungkin masih ada, ku raba lebih dalam lagi mungkin masih membekas cinta dari mu. Lantas ku tersadar bahwa ia tak ada, aromanya pun sulit ku hirup. Ia berada di ruang yang jauh, aku merindukan mu sayang..
Tiap pesan yang masuk di inbox handphone ku, aku selalu berharap itu pesan dari mu. Pesan singkat yang sekedar menyapaku dikala pagi, siang dan malam, pesan singkat yang sekedar menanyakan keadaanku, pesan singkat yang sekedar mengingatkan ku untuk makan, istirahat dan minum obat bila aku sedang sakit. Pesan singkat yang selalu kau kirim kala kau merasa kesepian. Aku merindukanmu sayang…
Aku menunggu telpon mu, aku berharap tiap handphone yang berdering itu dari mu. Aku berharap mendengar suara manja itu lagi, suara yang selalu ku dengar kala ku ingin tidur, suara yang sendu kala kau menangis karena masalahmu dengan teman-teman di asrama mu. Suara yang lembut merayu kala kau menghiburku kala ku lelah dari semua rutinitasku seharian. Suara cetusmu kala kau marah karena sikapku. Aku merindukan mu sayang…
Hanyalah bayang mu yang hidup dalam tiap hembus nafasku, hanya nama mu yang terucap di setiap lisanku, hanya cinta mu yaa hanya cinta mu yang ku rasa di hatiku. Meski sulit ku menggenggamnya karena ia telah terlepas dari ku…
Kujalani hari tanpa mu, ku sibukkan diri dengan segala aktivitas berharap ini mampu membuatku lupa akan dirimu. Ku ulurkan hati ini untuk mencari cinta yang lain di luar sana, hati demi hati ku raih namun tiada cinta yang mampu ku hembuskan. Terasa sulit ku luapkan cinta kepada wanita lain, mengapa hanya bayang mu yang ada di hatiku? Kau membuatku tak bisa mencintai orang lain sayang…
Setahun sudah ku jelajahi waktu tanpa mu, mengisi hari dengan kebekuan di hati. Kini masa depan ketiga adik-adik ku menjadi prioritas utama dalam hidupku. Aku tak mungkin terus mengandalkan Ayahku yang kini mulai renta karena usianya yang tak lagi muda, sebagai anak sulung dari empat saudara mau tak mau aku harus menjadi tulang punggung bagi keluargaku. Ketiga adik perempuanku mereka masih duduk di bangku sekolah dan itu membuat ku harus ekstra dalam mencari rizki agar terpenuhi semua kebutuhan mereka. Semenjak kepergian ibu dua tahun lalu adik-adik ku menjadi sosok yang mandiri, mereka tak lagi menjadi anak manja dan mengandalkan orangtua. Bahkan adik ku yang pertama ia membantu usaha orangtuaku yang dulu dikelola oleh ibuku sewaktu masih hidup. Aku beruntung memiliki mereka, karena merekalah yang mengurus segala pekerjaan rumah termasuk Delia adik ketigaku ia rajin membantu kakak-kakaknya.
Sepeninggal Ibu aku merasa kehilangan sosok wanita hebat dalam hidupku, wanita yang Sembilan bulan mengandungku dan selama 22 tahun membesarkan ku dengan penuh kasih sayang. Aku menjadi sosok yang penyendiri, serasa tak sanggup aku jalani hidup tanpa ibu. Kedekatanku kepada Ibu membuat rindu teramat dalam selepas kepergiannya. Dan engkau menjadi pelipur hatiku, ku luapkan segala kasih sayang yang ku punya kepada mu. Ku temukan sosok Ibu dalam dirimu, memang belum sempat kau ku kenalkan dengan Ibuku hingga akhirnya Ibu pergi namun ketahuilah sayang.. Ibu bahkan telah memberi lampu hijau atas hubungan kita meski beliau belum pernah bertemu dengan mu. Selalu ku ceritakan tentang mu, tentang bagaiman sikap dan kepribadianmu dan Ibu hanya berkata “Sayangi dan jagalah dia..!” begitu ucapnya pada ku.
Kini semua hanyalah kenangan, dua sosok wanita yang ku sayangi telah pergi meninggalkan ku. Beliau pergi karena tak mampu lagi menahan penyakitnya, aku masih tak mengerti alasan apa hingga kau mengakhiri semuannya kau memutuskan hubungan kita secara sepihak lalu menghilang tanpa jejak, sempat ku cari informasi tentang mu berharap ku temukan jawabannya. Nihil yang ku dapat, pernah terlintas dalam benak ku ingin rasanya ku pergi ke rumahmu tapi entah mengapa perasaan enggan membuat ku mengurungkan niat itu. Aku masih ingat benar kata-kata Ayah mu yang secara tidak langsung menghinaku dan hatiku sakit karenanya, sejak saat itu aku merasa enggan untuk bertandang ke rumahmu lagi. Penampilan dan karakter wajahku dinilai negatif di mata Ayahmu, memang aku kurang dari segi agama dan pergaulanku pun jauh dari predikat anak baik. Terkadang ku salahkan diri ini, mengapa mencintai seorang wanita seperti mu. Lahir dari keluarga yang agamis dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik, namun cinta ia tak bisa diterka dimana ia akan tumbuh. Dan aku tak pernah memilih kepada siapa aku akan mencinta, cinta inilah yang menuntunku kepada mu…
Wajah lugu nan polos pertama kali ku kenal dirimu, wajar saja karena kau tak pernah mengenal pria seintens kecuali dengan ku. Aku kekasih pertama bagimu! Begitu lekat ingatanku saat kau lebih memihak kepada ku saat semua teman-teman mu memusuhi dan menyuruh mu untuk meninggalkan aku, saat kau harus berbohong kepada Ayah mu demi utuhnya hubungan kita. Aku masih ingat itu sayang…
Keadaan yang terlampau biasa dan image negatif dari keluarga khususnya Ayahmu tak membuat kau berhenti mencintaiku bahkan kau masih mampu memberi ku maaf dan menerima ku kembali saat ku nodai putihnya cintamu. Terima kasih sayang..
Aku tak tahu terbuat dari apa hatimu, engkau sosok wanita yang tegar yang pernah ku kenal seumur hidupku. Seorang wanita yang lembut dan rapi dalam menyimpan lukanya, aku tahu betapa letihnya hatimu menahan sakit itu. Sakit karena Ayahmu melarang hubungan kita, sakit karena kau tahu aku membenci Ayahmu dan kau mengerti alasannya. Sakit karena pria yang selalu kau bela justru mengkhianatimu, sakit menjalani hubungan yang berjalan tanpa restu hingga untuk bertemu dengan ku pun kau harus berbohong kepada orangtua mu. Sakit karena teman-teman di asrama mulai memusihimu karena kau kepergok jalan bersamaku dan itu dilarang di asramamu. Tapi kau tak pernah mengeluh kepadaku, kau hanya berkata “Aku mencintai mu sayang..” seraya menitikan air matanya. Ku merasakan sebuah ketulusan dari mu dan kini aku merindukan semua itu.
Andai matahari mau merengkuhku, aku ingin ia melelehkan kebekuan ini. Tiada sempurna aku rasa kepergianmu membuatku semakin gila, terasa penat dan letih jiwa yang mulai terseok-seok oleh bayangmu yang seakan mempermainankanku datang dan pergi mengusik hati ini. Aku semakin rapuh saat satu persatu foto-foto itu melukiskan kenangan-kenangan indah yang dulu pernah kita lalui berdua guratan senyummu, tatapan matamu membuatku tak berdaya aku merindukanmu sayang…
Jaket inilah yang selalu mendekapku kala aku merindukanmu. Kau dulu selalu menyuruh agar aku selalu memakainya saat berangkat dan pulang kerja, kau tak ingin aku kedinginan apabila udara pagi dan malam menyerbuku dalam perjalanan. Namun sekarang jaket ini pula yang menemaniku saat kau tak lagi di sisi ku, saat kerinduan dan kehampaan silih berganti melucuti rongga jiwaku. Aku merindukanmu sayang…
Lilin merah berlambangkan angka 18 tahun menggurkan air matamu kala itu, di balik linangan senyummu merekah bak sinar mentari di ujung senja merona di atas mega jingga. Aku tahu bahagianya dirimu di hari itu dan aku dapat merasakannya namun sekarang keadaannya berbeda, aku tak melihat senyum itu lagi bahkan aku tak mendengar suara sendu yang dulu memenuhi lorong-lorong telingaku. Aku merindukanmu sayang…
Kau membiarkanku membusuk dalam bayangan masa lalu, lantas pergi dan meninggalkanku. Entahlah seperti apa cinta yang kau rajut di hati ini begitu rumit, aku sakit dibuatnya. Terkadang ingin ku lumat mentah-mentah dan ku telan saja. Tapi cinta engkau ada dan bernyawa, meski lara aku enggan melepasnya. Teruslah hidup hingga kelak aku tak mampu lagi untuk menggenggamnya.

No comments:

Post a Comment