Popular Posts

Tuesday, April 22, 2014

Malaikatku Tak Bersayap

“Apa yang sedang kau lihat?”
Aku langsung menyembunyikan benda berbentuk persegi di dalam selimut, dan kembali menetralkan detak jantungku.
“Kau harus berkata jujur padanya. Kurasa itu jauh lebih baik. Semua akan menjadi buruk jika Vari tahu lebih dulu.” lelaki yang berumur kira-kira satu tahun lebih tua dariku mulai mensejajarkan posisi duduknya bersila di depanku. Dan masih menatapku intens. “Kau dengar tidak?” aku mendesah pelan menanggapi pertanyaannya.
“Aku ingin tidur, lebih baik kau sekarang keluar dari kamarku.”
..istirahat sekolah..
“Kau baik-baik saja, Wil?”
“Ya, tentu.” Memutar bola mataku ke arah gadis yang saat ini tepat berada di sampingku sembari tersenyum. Memberikan isyarat padanya bahwa aku memang baik-baik saja. Harusnya aku yang bertanya ‘Apa kau akan tetap baik-baik saja?’. Mungkin apa yang sebagian orang katakan itu benar. Benci adalah perasaaan yang sangat mudah membuat seseorang berubah untuk beralih menjadi mencintainya. Itu fakta yang aku alami saat ini. Aku tidak menyukai satupun hal darinya. Dia terlalu kekanakkan untukku, tapi sampai saat ini aku belum mampu melepasnya dari sebutan kekasih. Mungkin aku yang bodoh disini. Tapi, aku sudah terlanjur mampu untuk tersenyum saat bersamanya. Sampai saat ini.
“Aku ingin sekali makan es krim coklat berukuran mangkok besar di kafe Skanus. Kurasa tempat itu akan menjadi tempat favoritku. Harusnya sejak dulu kau mengajakku kesana!” Ya, dia gadis yang cukup banyak bicara, dan diam secara tiba-tiba jika ada hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Aku melanjutkan bacaan dari buku bersampul coklat, mencoba untuk tidak merespon perkataannya barusan. Dan tentu saja dapat dengan mudah kutebak. Vari mulai menyangga kepalanya dengan satu tangan dan menunjukkan wajah yang memelas, jelek sekali.
“Aku akan malu bersamamu jika wajah yang kau tunjukkan selalu seperti itu.”
Aku diam melihat dia menikmati makanan kesukannya. Kurasa Vari tidak sadar jika sejak tadi aku terus memandangnya seperti ini. Kemudian pandanganku teralih pada dua sosok yang sudah beridiri di samping meja yang sejak tadi aku dan Vari duduki. Salah satu dari mereka memelukku singkat.
“Wili. Kau masih sering kesini, hah? Kau harusnya juga mengajakku!” gadis berponi itu kemudian duduk tanpa izin, diikuti seseorang yang sejak tadi memang bersamanya. Aktivitas makan Vari terhenti dan beralih menatap bingung pada tiga orang yang duduk satu meja dengannya secara bergantian.
“Yasmin dan Fibri. Mereka teman-temanku saat SMP.” Tanpa bertanya, aku menjawab pertanyaan yang mungkin akan Vari utarakan. Dia hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
“Aku Vari, kekasih Wili sejak tujuh bulan lalu.” Cara berkenalan gadis itu sungguh tidak elegant menurutku. Mereka saling berjabat satu per satu.
“Aku tidak menyangka kau bisa mencari gadis lain secepat itu. Rasanya baru dua tahun lalu kau berdebat hebat denganku.” Laki-laki itu membuat suhu di ruangan ini menjadi sangat pengap. Aku hanya mengepalkan tangan di pangkuan, mencoba mengumpulkan emosi disana yang siap meledak kapan saja. Fibri masih mengungkit masalah itu. Aku hanya bisa diam waktu dulu, tidak ada gunanya bertindak lebih. Lagipula aku sudah punya Vari sekarang, aku bisa perlahan melupakannya. Yasmin memang jauh lebih sempurna dari Vari, tapi aku tahu jika cinta Vari jauh lebih besar. Bodoh. Tentu saja lebih besar, sedangkan Yasmin sama sekali tidak pernah mempunyai sedikitpun perasaannya untukku.
“Apa gadis itu Yasmin? Kau masih mencintainya?” pertanyaan itu membuatku sedikit tersentak. Haruskah aku jawab ‘iya’?
“Ya. Masih sangat mencintainya. Mungkin tujuh kali lipat dibandingkan dengan aku mencintaimu. Kau tahu? Bahkan aku menyimpan fotonya di dompet, bukan fotomu. Aku juga membingkai fotonya dan kuletakkan di meja kecil kamarku. Tapi sayang, dia lebih menyukai Fibri. Dan aku mengetahui itu jauh sebelum Yasmin mengetahui perasaannya sendiri. Aku sangat memahami gadis itu. Kami sangat dekat.” Kali ini aku tidak berani melihat wajahnya. Aku menunduk.
“Kau masih berharap padanya? Kau milikku sekarang.” Suaranya berubah sedikit parau.
“Tentu, sayangnya dia yang tidak akan pernah mengharapkanku. Mungkin aku terlalu buruk untuknya, belum ada yang bisa membuatku untuk melupakan Yasmin, bahkan k…”
“Cukup!” Tidak ada lagi pembicaraan yang berlanjut hari itu. Vari pergi dengan ekspresi datar.
Ceklekk.. Rumah masih sepi. Kurasa semua penghuni sedang keluar. Aku membuka kulkas mencari minuman yang mungkin dapat membuat kepalaku sedikit dingin. Kurasa aku terlalu kejam mengatakan semuanya. Sampai sekarang Vari belum menghubungiku. Perlahan kurebahkan tubuh yang layu ini pada sofa panjang di ruangan bagian depan rumahku, mencoba bernafas lebih rileks.
“Kau kenapa? Aku bertemu Yasmin tadi di toko kaset. Dia akan kesini menemuimu.”
Spontan aku langsung membuka mata yang baru saja terpejam. Kakak semata wayangku itu memang sangat tidak bisa untuk berbasa-basi. “Baiklah, aku akan mengerjakan tugas-tugasku. Aku pinjam laptopmu, Wil.” aku hanya mampu mengangguk lemas. Keadaanku sedang tidak baik saat ini. Mungkin aku harus berpura-pura mati dan mencari tempat untukku berpikir jernih tanpa pengganggu. Jujur saja, aku masih kaku jika bicara dengan Yasmin setelah semua ini. Aku juga menjadi lebih dilema, apakah aku benar-benar mencintai Vari? Walau hanya sedikit? Arrggghhh… Harusnya aku tidak bertemu gadis itu lagi. Dulu dia yang memilih cinta dibanding sahabat, dan aku sangat muak atas tindakkannya.
“Untuk apa kau mengajakku kemari?” Yasmin sedikit memaksaku untuk pergi ke kafe ini. Tempat favorit kita dulu. Kafe Skanus.
“Wili. Maaf.”
“Sangat terlambat untukmu meminta maaf. Lagipula minta maaf untuk kesalahan yang mana? Aku tidak ingat. Dan tidak ingin mengingatnya.” Jawabku angkuh.
“Semua. Aku sangat menyayangimu, sahabat yang dulu selalu membuatku nyaman. Apakah sedikit saja kau tidak mau mengerti?”
Tersenyum. “Kau yang sejak dulu tidak pernah memahami aku.” Aku mulai mendekatkan wajahku dengannya. “Aku sangat mencintaimu, Yasmin. Kau meninggalkan persahabatan begitu saja, seseorang yang sangat tidak bisa diandalkan untuk menjadi teman.” Kini dia menunduk. Terisak di balik wajahnya yang terlihat sangat tenang. Kurangkul tubuh mungilnya. Aroma ini masih tersimpan dengan baik dalam ingatanku. Vanilla.
“Justru kau sangat penting bagiku. Aku tidak akan membiarkan cinta yang lebih abadi dari sekedar kekasih hilang.”
Aku memang bersalah, terlalu memaksakan kehendakku, bahkan dia tahu jika aku keras kepala. Sudah sangat lama aku tidak memeluknya seperti ini. Aku sudah terlanjur kalah. “Tenanglah, aku hanya sangat takut jika harus kehilangan orang sepertimu. Maaf sudah membuatmu seperti ini.”
“Apa yang sedang kalian lakukan, hah?” Fibri sudah berada disini.
“Kau sudah datang? Aku sangat merindukan Wili. Dan kurasa seseorang yang dulu pernah hilang mulai kembali. Aku dapat merasakannya, lewat wajahmu, Wil.” Yasmin dengan tenang berdiri dan menggandeng tangan lelaki yang sejak awal masuk SMA menjadi kekasihnya.
“Yasmin, apa maksudmu?”
“Tidak. Ini hanya pertemuan dua orang sahabat.” Jawabku. Aku tersenyum dan mundur beberapa langkah dari mereka, melihatnya dari jauh. Pandanganku belum dapat teralih hingga saat ini, masih tetap pada gadis berponi itu. Memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang. Aku merasakan ada yang menggenggam erat tangan kananku. Membuat keadaan ini sedikit lebih hangat, dan perlahan aku berbalik. Ada senyum terlukis di wajahnya. Menyeretku perlahan keluar dari tempat ini.
“Harusnya kau pergi saat melihat mereka berdua sedang bermesraan, setidaknya tutup matamu.”
Cup. Pegangan di tanganku mengendur setelah ciuman singkat yang aku lakukan secara sepihak. “A-aku hanya ingin memberikan ini. Milikmu.” Benda berwarna hitam dengan manik biru safir. Dia menyerahkannya padaku. “Aku tahu jika pita rambut ini tidak berarti sama sekali bagimu. Tapi menurutku benda ini sangat berharga. Dan itu benda satu-satunya yang kau berikan padaku selama kita saling mengenal. Harusnya aku bisa membaca sikapmu yang memang terkesan dingin padaku.” Dia tersenyum padaku, bahkan sama sekali tidak terlihat raut sedih seperti saat siang tadi.
“Maaf.” Kini aku yang menggenggam erat tangannya. “Kau masih tetap kekasihku, kan? Aku akan berusaha untuk lebih mencintaimu.”
“Tidak perlu. Kurasa aku tidak mencintaimu, dan aku tidak akan membuatmu mencintaiku. Aku hanya akan berusaha untuk tetap berada di sampingmu. Aku akan menunggu hingga kau siap bersamaku dalam jarak yang benar-benar nyata.” Aku tidak pernah berpikir dia akan berkata seperti itu.
- Terimakasih telah menjadi malaikatku
Seorang yang yang tak kusangka lebih hebat dari yang aku tahu
Gadis yang lebih indah dari apa yang biasa aku lihat -
(Wili)
- Bukan. Aku bukan malaikat
Aku hanya seorang yang akan tetap ada bersamamu
Melihat kau tersenyum itu sudah cukup
Lalu aku akan hilang bersama hembusan angin
Ketika bahagiamu sudah kau raih -
(Vari)

No comments:

Post a Comment