Hari itu, aku dan kelompokku berencana mengerjakan tugas seni budaya di rumah Amanda untuk membuat taplak meja. Ketika istirahat Amanda bertanya kepadaku “Nan lu jadi kan nanti ke rumah gua buat kerja kelompok?” “Iya jadi man.” Jawabku. Sebetulnya aku agak ragu untuk datang, Karena letak rumahnya yang sangat jauh yaitu di Kebayoran Lama sedangkan letak rumahku berada di Pondok Aren. Memerlukan waktu hampir 1 jam untuk tiba disana menggunakan motor. Apalagi aku tidak bisa membantu banyak disana, Tidak enak rasanya melihat yang lain kerja sedangkan aku tidak. Aku akan sangat bosan disana pikirku.
Sebenarnya sempat muncul ide dalam benakku. Kenapa aku tidak meminta Amanda untuk mengajak Salsa ke rumahnya? Salsa kan teman dekatnya Amanda. Mungkin dengan keberadaannya aku akan sedikit terhibur disana. Sebetulnya setelah putus hubungan dengan pacarku sebelumnya, aku menaruh kembali perasaan dengannya sejak kelas 7. Salsa mempunyai paras yang cantik, berkulit putih, rambut panjang lurus dan tinggi sekitar 167 cm. Tak heran banyak Cowok yang suka terhadapnya. Walaupun ia pendiam menurutku, tak disangka ternyata temannya sangatlah banyak. Bahkan mantannya pun teman dekatku ketika SD yang sekarang Sekolah di Smp 161.
Ketika pulang sekolah, aku memberanikan diri meminta ke Amanda untuk mengajak Salsa datang ke rumahnya. Dan ia pun menyetujuinya. Ketika di perjalanan pulang hatiku berdebar memikirkan aku bertemu dengannya disana, Tetapi dengan cepat kuhilangkan untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Aku tidak mau dikira terlalu berharap ketika disana ternyata dia tidak datang. Mau ditaruh dimana harga diriku nanti?
Ketika sampai rumah aku langsung makan siang dan terburu-buru untuk langsung pergi ke rumah Amanda. Jika aku tidak langsung pergi, waktuku hanya sebentar disana apalagi aku membayangkan salsa yang sedang menunggu. Dengan sigap aku langsung mengganti baju dan mamasukan peralatan yang dibutuhkan ke dalam tas.
Setelah pamit dengan ibu, aku pun langsung pergi menggunakan motor. Di perjalanan aku meliuk-liuk di antara kemacetan, panas yang menyengat saat itu dan asap hitam pekat Metromini sangat menguji kesabaranku. Setelah keluar dari kemacetan, kupacu motorku segera menuju rumah Amanda. Ketika sudah dekat rumah Amanda, Kemacetan khas pasar kebayoran lama mulai mengujiku kembali. Pedagang kaki lima dan Angkot yang memakan bahu jalan sangat membuat lalu lintas terhambat. Kapan jokowi akan mengatasi ini? Keluhku.
Dan kemudian sampailah aku di rumah Amanda. Hatiku berdebar membayangkan wajah Salsa menatapku ketika aku masuk ke rumahnya. Tetapi.. Begitu kecewanya aku ketika tidak ada dia pada saat itu. Kuteliti satu-satu wajah disana tetapi tetap tidak kutemukan. Walaupun begitu aku berusaha menyembunyikan Kekecewaanku.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba Amanda meminjam hp ku untuk menelfon Salsa. Ketika kutanya untuk apa, dia menjawab untuk menanya salsa sudah dimana. Apakah dia jadi kesini? Pikirku dengan kaget dan senang. Dan betul saja setelah beberapa menit kemudian dia datang diantar oleh kakaknya. Ketika dia masuk, aku tidak berani melihat wajahnya karena malu. Tapi ketika suasana mulai mencair aku pun sempat mengobrol dengannya walaupun sebentar. Coba teman-teman yang lain tidak godain aku dengannya, pasti aku bisa mengobrol lebih lama, keluhku.
Setelah 1 jam, ia dijemput kembali oleh kakaknya. Walaupun Cuma sebentar di rumah Amanda, tetapi aku sudah cukup senang bertemu dengannya. Kemudian yang menjadi pikiranku, bagaimana aku bisa dekat dengannya jika nomor hp saja tidak punya. Aku pun sudah tidak memakai BB lagi sehingga tidak bisa bbman dengannya.
Ketika jam 5 sore aku kembali ke rumahku. Aku menyimpan Androidku di saku jaket agar aku mudah mengambilnya ketika ada telfon. Tetapi sangat tidak disangka!! Ketika aku menyalip kendaraan lain, serasa ada yang jatuh dari kantong ku, dan kemudian terdengar benda terinjak.. Ketika aku melihat ke belakang ternyata hp ku lah yang jatuh dan terinjak motor lain. Kemudian aku meminggirkan motor dan segera mengambilnya. Aku berharap tidak terjadi apa-apa dengan hp ku. Tetapi ketika ku angkat sungguh sedihnya aku melihat LCD yang pecah. Walaupun masih bisa menyala tetapi touch screen tidak dapat berfungsi. Padahal hp ku sangat kubutuhkan buat belajar dan berhubungan dengan lainnya. Sungguh ceroboh dan sialnya aku ketika itu!
Dengan panik aku memikirkan nasib hp ku diperjalanan. Dan aku ingat aku masih punya BB yang tersimpan di rumah! Setelah sampai aku langsung mengambil BB ku dan ke Ciledug untuk mengganti casing BB ku yang sudah jelek. Sebetulnya hari itu sudah malam dan Ciledug cukup jauh dari rumahku, tetapi aku sangat membutuhkan hp untuk tetap berhubungan dengan teman-temanku. Dan alasan utamaku adalah untuk memulai hubungan dengan Salsa.
Walaupun tabungan ku habis untuk mengganti casing dan membeli paket BB, aku merasa ada hikmah di balik ini. Dengan memakai kembalinya BB, aku bisa dengan mudah berbicara dengan Salsa dan melancarkan misi PDKT ku. Kesialanku hari ini mungkin jadi keberuntungan, pikirku. Lagipula harga hp ku tidak terlalu mahal, pasti ayah mau membenarkan hp ku.
Esoknya aku mulai berpesan melalui bbm dengan salsa. Walaupun masih kaku tapi biarlah toh masih permulaan. Dan Hari demi hari, kami semakin dekat. Yang awalnya hanya membicarakan tugas saja, menjadi membicarakan masalah pribadi. Setiap waktuku selalu dihiasi dengan kehadirannya. Ketika aku sudah merasa sangat dekat, aku pun mengajaknya menonton “Insidious 2”. Kebetulan itu adalah film horror yang terkenal saat itu di kalangan remaja. Sebelum menonton, Kami berdua melihat-lihat buku di gramedia dan sambil mengobrol dengan santai. Ketika menonton, Aku tertawa ketika melihatnya ketakutan. Bagiku lebih seru melihatnya ketakutan daripada melihat filmnya. Film yang tidak seru dan seram sama sekali menurutku.
Setelah itu pun kami makan di KFC. Dan sangat kesalnya aku tiba-tiba seseorang menyenggol ku dan menjatuhkan minuman yang kubawa. Terpaksa aku makan tanpa minum.
Ketika pulang, kami membicarakannya dengan saling ledek. “ahh cemen lu masa gitu aja takut sih” ledekku. “Lu palingan mejem pas itu makannya gak takut” balasnya. Walaupun begitu aku merasa bahagia memikirkannya. Terutama wajah takutnya.
Walaupun belum pacaran, tetapi sampai saat ini pun kami masih dekat. Kalau hp ku tidak jatuh saat itu, mungkin aku tidak akan bisa dekat dengannya, perempuan yang sudah kusuka dari kelas 7. Pikirku dengan senang.
No comments:
Post a Comment