Senin pagi yang cerah dan embun yang indah menghiasi hari itu. Krisna masih terbuai-buai dalam mimpi indahnya jam 6 pagi. Krisna masih tak ingin bangun lagi, dia ingin mimpi lagi. Angin dingin berhembus memasuki jendelanya, membuat dirinya menggigil. Tangan yang ia selipkan ke selangkangan merupakan pertolongan pertama mengatasi kedinginannya.
Krisna merasakan basah yang amat terasa di sekujur tubuhnya, dia pikir dia sedang mimpi basah dengan nikita mirzani. Ternyata ibunya sedang membanjur krisna dengan gayung.
“Bangun nak! Udah jam 6 cepat pergi ke sekolah” Ucap ibu krisna teriak-teriak memakai toa.
“Iya mah ampun krisna bangun” Tangannya mengelap iler yang membasahi seluruh wajahnya.
Sialan udah jam 6 lagi. Ucap krisna dalam hatinya.
“Bangun nak! Udah jam 6 cepat pergi ke sekolah” Ucap ibu krisna teriak-teriak memakai toa.
“Iya mah ampun krisna bangun” Tangannya mengelap iler yang membasahi seluruh wajahnya.
Sialan udah jam 6 lagi. Ucap krisna dalam hatinya.
Krisna lantas menuju kamar mandinya, bukan untuk mandi, hanya cuci muka untuk membuat dirinya merasa lebih tampan. Lalu ia berkaca di sebuah cermin tua milik neneknya.
“Woy gue kan udah cuci muka! Kenapa muka gue masih jelek!” Wajah jelek, cerminpun ia salahkan.
Ia bergegas merombak wajahnya habis-habisan. Facial wajah milik ibunya ia colong, demi kadar ketampanannya. Setelah mengoles wajahnya dengan facial, kini ia over makeup. Wajahnya pun seperti pocong taman lawang yang bedaknya tebel 5 senti.
“Woy muka gue kenapa kaya pocong woy!!!” Ucap krisna marah-marah. Wajah jelek, cerminpun ia pecahkan.
Dia tak sadar bahwa waktu sudah pukul 6.37 dan ia pun belum menyiapkan buku yang akan di bawa. Sebetulnya krisna tidak pernah peduli dengan bukunya. Terkadang ia meminjam atau nyolong buku milik teman sebangkunya, yaitu ardi.
“Woy gue kan udah cuci muka! Kenapa muka gue masih jelek!” Wajah jelek, cerminpun ia salahkan.
Ia bergegas merombak wajahnya habis-habisan. Facial wajah milik ibunya ia colong, demi kadar ketampanannya. Setelah mengoles wajahnya dengan facial, kini ia over makeup. Wajahnya pun seperti pocong taman lawang yang bedaknya tebel 5 senti.
“Woy muka gue kenapa kaya pocong woy!!!” Ucap krisna marah-marah. Wajah jelek, cerminpun ia pecahkan.
Dia tak sadar bahwa waktu sudah pukul 6.37 dan ia pun belum menyiapkan buku yang akan di bawa. Sebetulnya krisna tidak pernah peduli dengan bukunya. Terkadang ia meminjam atau nyolong buku milik teman sebangkunya, yaitu ardi.
Kini krisna berangkat ke sekolah dengan kadar kepedeannya yang ampun-ampunan. Wajahnya yang putih hampir mirip orang mati dan giginya yang senantiasa cemerlang terkena sinar ultraviolet merupakan ciri khasnya sendiri untuk memikat hati para wanita.
Di tengah perjalanannya menuju sekolah, ia melihat wanita berparas cantik sekali di depan dirinya. Krisna bersiul-siul kepada wanita itu “Twuitt wiwww’ namun tidak ada respon dari wanita tersebut. Krisna lantas bertanya–tanya pakah wanita itu tuli? Atau gabisa denger? Sebetulnya tuli dan gabisa denger itu sama aja.
Krisna pun memperhatikan wanita itu lebih dekat lagi, krisna tercengangkan. Ternyata wanita itu sedang mendengarkan lagu dengan headphone. Betapa mirisnya krisna.
Ternyata ada tukang ojeg yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat krisna. Krisna pun merasa malu, lantas ia ngacir secepatnya.
Di tengah perjalanannya menuju sekolah, ia melihat wanita berparas cantik sekali di depan dirinya. Krisna bersiul-siul kepada wanita itu “Twuitt wiwww’ namun tidak ada respon dari wanita tersebut. Krisna lantas bertanya–tanya pakah wanita itu tuli? Atau gabisa denger? Sebetulnya tuli dan gabisa denger itu sama aja.
Krisna pun memperhatikan wanita itu lebih dekat lagi, krisna tercengangkan. Ternyata wanita itu sedang mendengarkan lagu dengan headphone. Betapa mirisnya krisna.
Ternyata ada tukang ojeg yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat krisna. Krisna pun merasa malu, lantas ia ngacir secepatnya.
Krisna berjalan begitu santainya tanpa menghiraukan waktu yang sudah menunjukan pukul 7.00, sedangkan ia harus masuk ke kelas sebelum jam 6.50.
Krisna berjalan berlaga sok paling tampan, setiap ada orang lewat. Ia mendramatisir wajahnya supaya lebih tampan, namun percuma. Bukan terpesona, orang–orang malah nafsu pingin nimpuk krisna dengan sol sepatu.
Nampaknya ia sudah lelah berjalan. Kini ia mencari mobil jemputannya, yaitu angkot. Ia pun menunggu di pinggir jalan sambil melambaikan–lambaikan giginya, bukan dengan tangan. Sekarang udah ga zamannya mencari angkot dengan melambaikan tangan.
Krisna berjalan berlaga sok paling tampan, setiap ada orang lewat. Ia mendramatisir wajahnya supaya lebih tampan, namun percuma. Bukan terpesona, orang–orang malah nafsu pingin nimpuk krisna dengan sol sepatu.
Nampaknya ia sudah lelah berjalan. Kini ia mencari mobil jemputannya, yaitu angkot. Ia pun menunggu di pinggir jalan sambil melambaikan–lambaikan giginya, bukan dengan tangan. Sekarang udah ga zamannya mencari angkot dengan melambaikan tangan.
Setelah lama menunggu, kini angkot itu datang. Krisna menaiki angkot itu, para penumpang lainnya menghindar takut tertusuk oleh gigi krisna. Bahkan ada yang langsung turun. Gigi krisna seakan–akan membuat sempit angkot itu dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi para penumpang angkot yang lainya. Maka para penumpang itu sepakat untuk turun, dan meninggalkan krisna sendiri dengan giginya.
Tak selang beberapa menit, kini krisna sudah sampai di sekolahnya. Krisna pun turun dari angkot tersebut lalu mengeluarkan dompetnya yang tebal, tebal dengan kertas dan tisu. Ia pun memberikan uang kepada supir angkot sambil berlaga layaknya seorang jutawan.
“Nih mas ambil aja uangnya gausah pake kembalian segala” Krisna melemparkan uangnya, sifatnya memang belagu.
“Woy kurang woy duitnya!!!” Gerutu sang supir angkot marah–marah
“Maunya berapa sih? Mau semahal apa kamu di bayar?”
“Ini duitnya cuman gope. Kurang seribu lagi!”
“Nihh ambil semuanya”
“Nih mas ambil aja uangnya gausah pake kembalian segala” Krisna melemparkan uangnya, sifatnya memang belagu.
“Woy kurang woy duitnya!!!” Gerutu sang supir angkot marah–marah
“Maunya berapa sih? Mau semahal apa kamu di bayar?”
“Ini duitnya cuman gope. Kurang seribu lagi!”
“Nihh ambil semuanya”
Krisna heran melihat gerbang sekolahnya sudah ditutup. Kini ia baru sadar bahwa dia sudah terlambat. Krisna pun kocar–kacir menuju kelas. Krisna sudah terlambat lebih 15 menit, dan dia baru sadar sekarang pelajaran pa rahmat. Sang guru push up. Kenapa dijuluki guru push up? Karena pa rahmat selalu menyuruh muridnya push up bila membuat ulah.
Krisna tegang, begitu juga dengan giginya ikut–ikutan tegang. Kisna berlari sekencang–kencangnya menuju kelas VII-4. Krisna mengengok kedalam jendela VII-4 dan berkata ohh tidak ada pak rahmat. Ucap krisna kedua tanganya memegang kepalanya. Semerbak bau ketiak berhembus ke dalam kelas itu.
Krisna pun memasuki kelas itu dengan rasa cemas takut di suruh push up oleh pak rahmat. Serentak para murid VII-4 menutupi matanya
“Cahaya apa itu…” Ucap randy sambil menutup matanya
“Cahayanya bikin mata gue sakit” Ujar ardi menutupi matanya dengan buku
“Singkirkan cahaya itu singkirkann” Serentak murid VII-4 menutupi wajahnya, tidak kuat menahan silau.
“Sudah–sudah cukup, itu cuman giginya krisna yang silau” Ucap fahmi memecahkan misteri cahaya itu.
Krisna pun memasuki kelas itu dengan rasa cemas takut di suruh push up oleh pak rahmat. Serentak para murid VII-4 menutupi matanya
“Cahaya apa itu…” Ucap randy sambil menutup matanya
“Cahayanya bikin mata gue sakit” Ujar ardi menutupi matanya dengan buku
“Singkirkan cahaya itu singkirkann” Serentak murid VII-4 menutupi wajahnya, tidak kuat menahan silau.
“Sudah–sudah cukup, itu cuman giginya krisna yang silau” Ucap fahmi memecahkan misteri cahaya itu.
Krisna pun menghadap kepada pa rahmat yang sedang mengajar, sambil memasang wajahnya yang memprihatinkan krisna mencoba mengelabui pa rahmat
“Maaf pak tadi saya terlambat gara-gara angkotnya mogok” Krisna ngeles
“Yaudah gapapa kamu bapak maafkan” Jawab pa rahmat begitu santun.
“Asikkk makasih ya pak..” Krisna sumringah, ia pun loncat luntang–lantung menuju bangkunya.
“Tunggu dulu krisna… Sebelum duduk kamu harus push up dulu 50 kali”
“Tapi pak…”
“Gaada tapi tapi, cepat sekarang push up 50 kali atau saya potongin gigi kamu”
“Jangan pak jangan..! Ini gigi kramat”
“Ya sudah cepat push up!”
Krisna tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun push up dengan pasrahnya daripada giginya harus di potong oleh pa rahmat.
“Maaf pak tadi saya terlambat gara-gara angkotnya mogok” Krisna ngeles
“Yaudah gapapa kamu bapak maafkan” Jawab pa rahmat begitu santun.
“Asikkk makasih ya pak..” Krisna sumringah, ia pun loncat luntang–lantung menuju bangkunya.
“Tunggu dulu krisna… Sebelum duduk kamu harus push up dulu 50 kali”
“Tapi pak…”
“Gaada tapi tapi, cepat sekarang push up 50 kali atau saya potongin gigi kamu”
“Jangan pak jangan..! Ini gigi kramat”
“Ya sudah cepat push up!”
Krisna tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun push up dengan pasrahnya daripada giginya harus di potong oleh pa rahmat.
“Push up macam apa kamu, yang gerak cuman kepalanya doang” Pa rahmat menggerutu
“Mungkin keberatan sama giginya pak..!” Randy menyela, sekaligus meledek krisna.
BUAHAHAHAHAHA ketawa jahat para murid VII-4
Pa rahmat pun kembali menerangkan materi pelajaran. Sedangkan krisna masih sibuk push up. Para murid VII-4 pun kembali memperhatikan pak rahmat, krisna pun terlupakan.
“Mungkin keberatan sama giginya pak..!” Randy menyela, sekaligus meledek krisna.
BUAHAHAHAHAHA ketawa jahat para murid VII-4
Pa rahmat pun kembali menerangkan materi pelajaran. Sedangkan krisna masih sibuk push up. Para murid VII-4 pun kembali memperhatikan pak rahmat, krisna pun terlupakan.
No comments:
Post a Comment